Astaga...Ternyata Ada Juga TKW Berulah di Negara Lain
Berita yang lagi marak akhir-akhir ini di tanah air menyoroti tentang TKI yang menjadi korban
Penulis:
Totok
Editor:
Widiyabuana Slay
Sebenarnya kasus-kasus semacam itu sering terjadi dan menimpa saudara kita yang sedang mengais rejeki dinegeri kerajaan petrodolar. Namun jarang sekali kasusnya diungkap, bahkan sang pelkunya tidak disentuh hukum sama sekali, masih bebas berkeliaran.
Namun di balik TKW yang bernasib buruk karena mendapatkan siksa majikannya, ada juga TKW-TKW yang statusnya ilegal untuk bahasa halusnya 'umrohan', sering melakukan hal-hal tidak terpuji. Bahkan mereka cenderung menurunkan derajat bangsa kita sendiri.
Ada sebagian oknum yang sengaja mencari uang dengan cara (maaf) menjual diri sama orang Arab bahkan dari bangsa lain. Makanya Bangsa Indonesia sering dengan sebutan Siti Rahma atau abu khamsin (perempuan seharga 50 real).
Seharusnya pemerintah tanggap dengan keadaan dan situasi waraganya yang ada di luar negeri. Sebenarnya pemerintah juga tahu adanya praktik-praktik portitusi terselubung yang melibatkan warga Indonesia, namun belum pernah ada tindakan.
Sering kejadian perempuan Indonesia kawin sama bangsa lain sampai punya anak, setelah itu ditinggal pulang suaminya nggak kembali lagi. Akhirnya si perempuan menanggung beban biaya hidup anaknya. Status perkawinan itu sendiri nggak jelas.
Jadi kami mohon perhatian pemerintah bukan hanya menyoroti kasus TKI yang bermasalah dengan majikannya saja, tapi TKW yang bikin kotor di negeri orang juga harus ditindak lanjuti. Kalau dibiarkan terus menerus, harga diri dan martabat bangsa kita makin hancur.
Kalau mau lihat tingkah laku para TKW yang bebas tanpa ikatan kontrak dengan majikannya, bisa buka di YouTube (persatuan lonte hai Nuzha Jeddah). Ada TKW yang sedang joget sama kawan-kawannya seolah tanpa beban, tidak memikirkan saudaranya yang bernasib buruk mendapat siksa dari majikannya.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan