Di Daerah Banyak Wartawan 'CNN' Tak Ramah ke Pejabat
Maraknya media cetak terbitan pusat dan daerah di era reformasi ini,memberikan peluang bagi setiap orang untuk berkarya-nyata
Penulis:
Manuala Tampubolon SH
Editor:
Widiyabuana Slay
Media cetak harian atau mingguan membandroli setiap calon wartawan berupa oplah penjualan koran sekian eksemplar agar diterima sebagai Wartawan dan dapat menulis di koran tersebut.
Pihak perusahaan pun tidak harus menyeleksi setiap orang dan dari mana serta siapa sebenarnya yang layak sebagai penggiat berita itu. Terpenting,oplah bisa dijual yang diberikan hak menulis dan kartu pers.
Hampir seratusan disebut Wartawan terutama di Kabupaten Toba Samosir,berkeliling kesana kemari,berkeliling ke setiap instansi pemerintah dan swasta dengan alasan mencari berita.
Dari seratusan data Wartawan dengan catatan,hanya sekitar 10 persen yang dapat dikategorikan Wartawan yang dapat menulis berita,sedangkan sekitar 90 persen lagi tidak dapat dikategorikan Wartawan,dengan rincian mereka ini adalah wartawan tidak tau menulis dan Wartawan CNN alias "Cuma Nengok-Nengok".
Para Wartawan CNN itu,ketika tidak bersahabat dengan seorang pejabat,akan dicari celahnya dengan meminta tolong kepada rekannya untuk dibuatkan berita si pejabat itu.
Si Wartawan itu pun melanjutkan pembicaraan kepada Kejaksaan dan Polisi agar si pejabat itu dipanggil secara hukum.
Enaknya jadi wartawan,membuat pejabat non job dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) kelas teri mendapatkan kartu pers yang disebut sebagai Wartawan. Tapi bayar panjar dulu sama perusahaan berapa eksemplar.
Hal itulah yang saat ini dan kelak terus-menerus merusak tatanan kehidupan antar Wartawan dan merusak profesi sebagai wartawan.
Untuk itu,diharapkan pihak Komisi Penyiaran Indonesia menjadikan persoalan yang mendera kuli tinta itu merupakan agenda penting untuk dibawakan kepada pemerintah pusat dan DPR-RI untuk menjadi bahasan mencari solusi.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.