Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Semanggi, Potensi yang Belum Tergali

Kandungan isoflavon dalam semanggi mampu melakukan penetralan terhadap racun dalam tubuh.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina

SAAT melewati petak sawah yang terdiri dari air dan rerumputan, tak banyak orang yang tahu seperti apa bentuk daun semanggi. Semanggi sebenarnya termasuk gulma yang merugikan petani padi. Namun jika dikelola dengan baik, tumbuhan yang masih tergolong paku air dan memiliki nama latin Marsilea Drummondii ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Pecel daun semanggi merupakan salah satu nilai ekonomis dari tumbuhan semanggi. Salah satu kuliner tradisional ini begitu legendaris, meski terkadang keberadaannya senasib dengan makanan tradisional lain, yakni terpinggirkan dari modernitas jaman. Selain pecel, ternyata semanggi juga memiliki manfaat lain di bidang medis. Semanggi ternyata dapat melindungi tubuh dari perkembangan sel kanker, terutama kanker payudara, getah bening dan kanker rahim.

Kandungan isoflavon dalam semanggi mampu melakukan penetralan terhadap racun dalam tubuh.

Hal ini terungkap dalam dialog antara Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, dan Kelompok Tani Semanggi, Anjatan Utara, Indramayu pada 21 Januari 2012 lalu. Kegiatan yang digagas oleh Paguyuban Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Indramayu ini mencoba menggali lebih jauh budidaya tumbuhan semanggi.

“Walaupun semanggi merupakan gulma, dan mengganggu produktivitas padi, karena nilai ekonomisnya tinggi, tumbuhan ini harus tetap ditingkatkan produksinya. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua,” tutur Heryawan.

Mandung, Ketua Kelompok Tani Semanggi, mengatakan kelompoknya kini sudah memiliki 20 ha lahan semanggi. Semanggi bisa dipanen setiap seminggu sekali. Dalam satu kali panen, kelompoknya mampu menghasilkan berpuluh kilo daun semanggi. Takarannya sederhana, Mandung dan kelompoknya menjual per ember timba seharga Rp 7.000. Hampir setiap harinya, sebanyak enam ratus ember terjual habis.

Pembeli daun semanggi di kelompok Mandung kebanyakan dari dalam Indramayu sendiri, namun ada beberapa dari wilayah Cirebon. Saat ini, Mandung dan kelompoknya kewalahan memenuhi permintaan pasar. Sehingga butuh perluasan lahan tanam.

Rekomendasi Untuk Anda

Persoalan muncul ketika Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggiatkan program ketahanan pangan. Ketahanan pangan menitikberatkan pada produktivitas makanan pokok, yakni beras. Semanggi, yang merupakan gulma penghambat pertumbuhan padi, dianggap ‘musuh’ bagi program tersebut. Sehingga PPNSI hadir untuk menjembatani hal ini.

“Budidaya semanggi harus terus digiatkan, namun tanpa mengurangi lahan persawahan yang sudah ada. Untuk itulah PPNSI akan mencoba melakukan inovasi,” kata Didi Mujahiri, Ketua PPNSI Daerah Indramayu.

Menurut Didi, nilai ekonomis semanggi banyak membantu petani dalam menunggu masa panen padi. Untuk itulah pihaknya akan terus melakukan pembinaan terhadap para petani yang melakukan budidaya semanggi ini. Pihaknya akan mencoba untuk membudidayakan semanggi di pekarangan rumah, sehingga budidaya semanggi mampu dipraktekkan oleh semua kalangan. (Sumber: Pembaca Tribunnews.com, Doel Jani)

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas