Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Raja Majapahit Bali: Jika Tak Mau Menyumbang Usir Saja

Orang bijak mengatakan, dimana bumi dipijak disana langit dijunjung dan filosopi itulah

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Widiyabuana Slay

TRIBUNNEWS.COM - Orang bijak mengatakan, dimana bumi dipijak disana langit dijunjung dan filosopi itulah yang ingin diingatkan oleh Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III pada seluruh warga Bali yang hidup di Bali, bahwa kerukunan dan toleransi dua arah adalah syarat mutlak yang perlu dilaksanakan kaum pendatang dalam bergaul dengan Hindu yang mayoritas di Pulau Bali.

Salah satunya dengan ikut membantu umat Hindu mensukseskan penggalangan dana dalam rangka upacara – upacara agama di Bali. Hal ini ia himbau, agar komitmen menjaga Desa Pekraman yang berasal dari nilai – nilai Hindu agar diejawantahkan, bukan sekedar jargon tokoh lintas agama semata. ”Saya minta umat Hindu yang saat ini mempersiapkan Tawur Agung dan Mecaru Jagat, juga perayaan agama didesa – desa agar jangan segan dan malu meminta bantuan dan sumbangan pada pengusaha non-Hindu dan pendatang di Bali.

Bagi saya, jika umat Hindu berupacara, itu artinya sudah menjaga vibrasi Bali dan ini sudah urusan lintas agama.Jadi siapapun yang tinggal di Bali, apapun agama dan sukunya harus ikut serta mendukung upacara agama yang dipersiapkan oleh desa pekraman, dan banjar adat. Disini toleransi dua arah dipertaruhkan.”ungkap Dr.Arya Wedakarna. Ia memberikan contoh, jangan sampai umat Hindu lelah berupacara dan menjaga kesucian Bali, tapi ada kelompok dan pendatang yang tidak peduli pada sistem alam Bali. ”Di Bali ini kan setiap jengkal tanah adalah wilayah Desa Adat.

Jadi jika Desa Adat minta sumbangan pada pendatang dan pengusaha non-Hindu ya wajar saja. Bahkan desa adat bisa memberi sanksi bagi pendatang yang tidak mau berkontribusi. Jangan cuma orang Bali yang dikasepekang kalau melanggar. Begitu juga bagi perusahaan yang beroperasi di Bali, wajib hukumnya memberi sumbangan CSR pada Desa Adat atau Majelis Hindu. Mereka sudah banyak mengeruk untung,jangan sampai Bali tidak dapat apa – apa. Harusnya mereka berterimakasih pada adat Bali sudah disucikan dengan upacara – upacara. Jika tidak mau, ya usir saja dari desa adat. Kita perlu pengusaha yang peduli budaya Hindu Bali.”ungkap putra dari salah seorang pendiri PHDI ini.

Lalu sumbangan jenis apa yang bisa dimintakan ? ”Saya kira setiap hari raya besar seperti Nyepi dan Galungan atau setiap odalan di pura Khayangan Desa seharusnya pendatang dimintakan sumbangan. Jangan dipatok sekali setahun seperti saat ini. Pokoknya setiap upacara besar didesa, silahkan dimintakan sumbangan. Menjaga desa adat dan berupacara kan perlu uang.

Kalau semua berasal dari Krama Bali, bisa bangkrut rakyat Bali. Ini tergantung keberanian dan kecerdasan Prajuru atau Bendesa.”lanjut President The Hindu Center Of Indonesia. ”Jangan takut, jangan segan. Belum pernah ada kasus di Bali ada pengusaha dan pendatang di Bali menolak jika dimintakan sumbangan. Silahkan desa adat dan sekaa teruna minta sumbangan. Asal jangan terima sumbangan minuman keras atau sejenisnya, tapi mintakan sumbangan berupa dana punia. Uang itu dikelola untuk keperluan SDM dan upacara didesa. Ayo kita gotong royong untuk Bali. Masih ada waktu untuk meminta sumbangan pada mereka. Ini bukan hak adat tapi kewajiban pendatang di Bali.”pungkas Abhiseka Raja Majapahit Bali ini.

*Ini merupakan rilis resmi dari The Hindu Center

Rekomendasi Untuk Anda

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas