Mengintip Black Hornbill di Hutan Pematang Gadung
SEPERTI biasanya pengamatan di lakukan setiap seminggu sekali, patroli ini dilaksanakan oleh tim pencinta
Editor:
Hendra Gunawan
Laporan Tribunners, Petrus Kanisius* dari Ketapang
TRIBUNNEWS.COM - SEPERTI biasanya pengamatan di lakukan setiap seminggu sekali, patroli ini dilaksanakan oleh tim pencinta satwa pada, 26/04/2012, pekan lalu. Tim pengamatan terdiri dari Kawan Burung Ketapang (KBK)-Ketapang Biodiversity Keeping, Birding Society Of Ketapang (B'SYOK) dan Ketapang Photographer Club (KPC), melakukan monitoring terhadap sepasang Kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), atau dalam nama Inggrisnya Black Hornbill. Populasinya sedikit dan terancam punah. Keberdaan Black Hornbill di hamparan hutan di desa Pematang Gadung, dijumpai sedang bersarang sejak Desember 2011 sampai saat ini.
Dalam kurun waktu beberapa bulan sampai tulisan ini dibuat, kondisi anak Black Hornbill di dalam lubang atau sarang sudah tampak besar. "Mungkin segera akan terbang!" kata Abdurahman Al Qadrie, Ketua KBK. Bersama Birding Society Of Ketapang (B'SYOK) dan Ketapang Photographer Club (KPC), Abdurahman melakukan monitoring setiap akhir pekan untuk memastikan keadaan sarang dan sekitar aman dari gangguan, terutama manusia.
Sangat penting untuk terus memastikan, hingga anakan benar-benar tumbuh normal hingga dewasa. Mengingat akan kekhawatiran dijumpai oleh orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga ada upaya untuk memelihara atau menjualnya. Ini merupakan hal penting dilakukan untuk terus memonitor, karena burung jenis ini dilindungi, dan status konservasinya mendekati keterancaman atau Near Threatened (NT). Tegas Abdurahman lagi.
Merupakan keberuntungan untuk bisa melihat burung ini dari tempat yang sangat dekat, jelas Edy, seorang pegiat lingkungan dari B'SYOK. Merupakan pengalam pertama baginya untuk ikut memonitor perkembangan "Enggang Hitam" ini. Mulai dari membuat kamuflase (penyamaran- red) untuk pemantauan hingga berkunjung ke hutan setiap minggunya.
Namun demikian, kegiatan ini tidak boleh terlalu berlama-lama di dekat sarang, khawatir kegiatan burung jantan dalam memberi makanan terhadap betina dan anaknya akan terganggu, demikian tambahan Erik, dari B'SYOK. Jadi aktivitas pengamatan dibuat se-alami- mungkin.
Kita akan menunggu kesempatan lain, kata Yayan, photographer yang saat ikut monitoring tidak bisa pergi ke sarang, karena hujan menyebabkan air melimpah di hutan rawa gambut.
Seperti kebiasaan dari jenis Hornbill, sejak mulai akan meletakkan telur di dalam sarang, sang betina tidak pernah keluar lagi dan terkurung di dalam sarang hingga anaknya bisa terbang. Ini menunjukan bahwa betapa sulit populasi berkembang, karena dalam proses mengeram, perlu perlakuan khusus tidak seperti jenis burung kebanyakan. Perlu suhu yang benar-benar stabil, tambah Doni, yang selama ini aktif dalam peran serta monitoring.
Memang secara global Black Hornbill, tersebar secara luas mulai dari India hingga Indonesia. Namun karena populasi terbatas, suatu kewajiban bagi kita untuk menjaga habitat mengingat jenis satwa ini dilindungi menurut perundang-undangan yang berlaku.
Menjadi keinginan semua, sangat besar harapan untuk melihat jenis ini memiliki populasi yang besar. Hal ini mengingat kawasan hutan gambut Pematang Gadung yang masih memiliki luasan lebih dari 14.000 hektar, cukup untuk menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa, jika tidak terjadi deforestasi.
*) Petrus Kanisius adalah aktivis lingkungan dari Yayasan Palung
Sumber: Tribun Pontianak
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.