Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Tribunners / Citizen Journalism

Persembahyangan Upacara Ngenteg Linggih di Berlin

Prosesi mepeed. Orang Jerman menyebutnya dengan Tempel-Umzug dilakukan di Berlin, 5 Mei 2012 lalu

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Memuat video…

TRIBUNNEWS.COM, BERLIN - Prosesi mepeed. Orang Jerman menyebutnya dengan Tempel-Umzug dilakukan di Berlin, 5 Mei 2012 lalu. Yakni para semeton Hindu yang hadir berjalan mengelilingi area pura dengan mengusung prani (sesajen) yang diikuti riuh rendah musik baleganjur.

Parade ini mendapat perhatian yang besar di bawah jepretan ratusan kamera pengunjung yang membuat suasana semakin mirip upacara melasti di Bali.

Sebagai sumbangsih tanda terimakasih dari pihak Nyama Braya Bali di Berlin kepada pihak pengelola taman wisata Gärten der Welt Berlin dipentaskan tari-tarian dari UNHI di atas panggung yang telah disediakan yang dimulai dengan tabuh lelambatan Gasuri dengan dipimpin oleh dosen kerawitan dari UNHI I Ketut Gede Rudita.

Sebagian besar tarian-tarian yang ditampilkan merupakan tari klasik Bali seperti: Gabor, Kebyar Duduk, Oleg Tambulilingan, Legong Kuntul dan tari kreasi Belibis. Satu-satunya penari yang bukan dari UNHI adalah Ketut Edi yang datang langsung dari Belanda membawakan tari Teruna Jaya. Pementasan acara hiburan ini mendapat sambutan yang sangat meriah. Walaupun cuaca sempat diselingi hujan gerimis, hal ini tidak menyurutkan minat pengunjung untuk mengikuti acara sampai selesai.

Di sela-sela pementasan acara diselingi dengan penyampaian sambutan dari pihak taman Gärten der Welt, dari pemerintah Indonesia (KBRI Berlin), dan dari Dirjen Hindu. Manajer Gärten der Welt Beate Reuber dalam sambutannya menyatakan kegembiraan luar biasa dengan penyelenggaraan prosesi pemlapasan yang merupakan bagian dari Balinese Temple Festival dalam rangka perayaan ulang tahun ke-25 taman tersebut.  
Dia yang awalnya skeptis dengan usaha yang dirintis oleh masyarakat Bali di Berlin akhirnya menyampaikan rasa salutnya atas keberhasilan pembanguna Pura Tri Hita Karana. "Hari ini Nyama Braya Bali telah berhasil menarik warga Jerman untuk melihat dan mempelajari lebih terperinci dan memperoleh wawasan berharga tentang Bali. Ini pengalaman luar biasa, tidak saja bagi saya tetapi juga masyarakat Jerman pengunjung taman ini," demikian petikan sambutan Ibu Beate Reuber yang di sampaikannya dalam bahasa jerman.

Sambutan dari pihak pemerintah Indonesia yang dibacakan oleh Kuasa Usaha ad Interim Diah Rubianto mewakili Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman yang berhalangan hadir saat itu, menyampaikan bahwa prosesi penyucian Pura Tri Hita Karana di taman Gärten der Welt tersebut telah membuka dimensi baru mengenai budaya Bali dan keberadaan budaya Indonesia di Jerman.  

"Suatu penghormatan tak terhingga, bukan saja untuk masyarakat Bali di Jerman, tetapi Indonesia secara keseluruhan mengingat hal ini merupakan manifestasi dari keragaman agama dan budaya Indonesia, yang telah menjadi aset Indonesia paling bernilai,".

Rekomendasi Untuk Anda

Lebih lanjut sambutan Ibu Diah Rubianto yang di sampaikannya dalam bahasa inggris menyambut baik upacara ngenteg linggih dan pemlaspasan yang di lengkapi dengan pementasan tari-tarian bali yang merupakan bagian dari diplomasi untuk memperkokoh pondasi persahabatan masyarakat Indonesia-Jerman yang berbeda latar belakang budaya.
 

Upacara Ngenteg Linggih                                                

Sambutan lainnya disampaikan oleh Dirjen Hindu Indonesia bapak Professor Dr. Yudha Triguna yang mewakili Umat Hindu di Indonesia serta mewakili Kementerian Agama RI dan Pemerintah Daerah Bali yang sambutannya disampaiakan dalam bahasa indonesia dan diterjemahkan kedalam bahasa jerman oleh moderator acara Gusti Ayu Aryani Kriegenburg.

Yudha Triguna  menyampaikan rasa terimakasih kepada pihak pengelola taman Gärten der Welt yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan upacara ngenteg linggih dan pemlaspasan.

Disampaikan pula agar umat Hindu di Berlin dan di Jerman untuk ikut serta merawat Pura Tri Hita Karana, dan berharap keberadaan Pura Tri Hita Karana bisa menjadi pemersatu umat Hindu yang ada di Jerman dan mempertebal keyakinan akan kehinduannya walaupun merantau hingga ke Jerman.

Serangkaian acara hiburan akhirnya ditutup dengan pementasan drama tari yang sangat popular di Bali, Calonarang. Walaupun cukup asing di kalangan publik Jerman, kisah klasik tentang pergulatan antara kebaikan dan kejahatan yang sangat digemari di Bali ini, bisa diikuti dan dimengerti oleh penonton dengan latar belakang budaya berbeda.

Hal ini tak lepas dari kepiawaian para pemain yang membuat sekat-sekat bahasa dan budaya menjadi hilang. Diselingi dengan pemakaian bahasa Inggris (bercampur Bali), para pemain punakawan berhasil mengocok perut penonton yang sekali-sekali diselingi aksi slapstick di atas panggung. Seakan tidak memperdulikan dinginan cuaca, para penari dan penabuh dengan fokus dan profesional menunjukan keliahiannya yang pada akhir pementasan mendapat aplaus dari ratusan penonton yang setia mengikuti acara sampai selesai.

Sekitar jam 19:00 waktu setempat akhirnya semua rangkaian acara berakhir yang ditutup dengan persembahyangan bersama dimana rombongan misi kesenian seterusnya melanjutkan  perjalanan ke Brussel, Belgia.

*Sebagaimana dilaporkan oleh I Ketut Santrawan, panitia Upacara Ngenteg Linggih Pura Tri Hita Karana Berlin.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas