Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Saputangan Fang Yin

Ingatan kolektif bangsa ini masih terbebani trauma berat akibat tragedi kemanusiaan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Rachmat Hidayat

TRIBUNNEWS.COM--Seorang gadis berkulit putih bermata sipit membakar selembar sapu tangan sambil terisak. Selembar kain yang segera luruh menjadi abu adalah simbol dari masa lalunya.

Fang Yin gadis Tionghoa, korban perkosaan pada Tragedi Mei 1998, sapu tangan itu pemberian Kho pacarnya yang minggat setelah tahu ia diperkosa. Namun kini Fang Yin sudah berdamai dengan masa lalunya.

Selama 13 tahun ia mengungsi ke Amerika, mencoba menghindari dari trauma masa lalu, kebencian dan kekerasan terhadap komunitas etnis Cina telah menyebabkannya mengutuk Indonesia, ibu pertiwi yang melahirkannya namun dipangkuannya pula ia direnggut kehormatannya.

Awalnya ia bertekad mengubah kewarganegaraan menjadi warga Amerika, namun cintanya pada ibu pertiwi tak pernah pudar, ia ingin Indonesia juga menang melawan masa lalunya, seperti kemenangannya menghadapi traumatik masa lalu.

Itulah cuplikan dari film “Sapu Tangan Fang Yin” yang disutradarai Hanung Bramantyo yang berasal dari puisi esai Denny JA dengan judul yang sama.

Film yang berbasis esai puitik ini mengisahkan tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Tionghoa pada Kerusuhan Mei 1998. Tercatat sekitar 70.000 warga keturunan etnis Cina meninggalkan Indonesia pascakerusuhan Mei 1998 itu. Lihat, Ivan Wibowo (ed.), COKIN: So What Gitu Lho! (Jakarta: Komunitas Bambu-Jaringan Tionghoa Muda, 2008), h. viii. Perkampungan dan pusat-pusat perniagaan yang dimiliki etnis Tinghoa dijarah dan dibakar. Pemiliknya menerima kekerasan dan yang paling tragis, gadis-gadis Tionghoa diperkosa.

Aksi kekerasan dan pemerkosaan terjadi pada 13-14 Mei 1998, korbannya tak hanya di di Jakarta, tapi juga di Bandung, Solo, Medan, Makassar dan kota-kota lain. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) mencatat 78 orang perempuan Cina menjadi korban perkosaan, 85 orang mengalami kekerasan seksual, disiksa alat kelaminnya dengan benda tajam.

Rekomendasi Untuk Anda

Korban yang meninggal dunia tercatat sekitar 1.217 orang (1.190 orang di antaranya meninggal akibat terbakar), luka-luka 91 orang, dan hilang 31 orang. (Lihat dalam Ester Indahyani Jusuf, Hotma Timbul, Olisias Gultom, Sondang Frishka, Kerusuhan Mei 1998 Fakta, Data dan Analisa: Mengungkap Kerusuhan Mei 1998 Sebagai Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (Jakarta: SNB dan APHI, 2007), h. 177.

Aksi kekerasan dan pejarahan itu tak bisa dibilang seporadis dan reaktif saja, karena terdapat pola-pola pengerahan dan pengendalian massa, dan meledak secara hampir bersamaan di beberapa wilayah di Indonesia. Negara dan Pemerintah dituntut tanggungjawabnya dalam kerusuhan itu. Namun kini proses hukum makin surut. Keadilan tak pernah datang tertimbun hiruk-pikuk politik di Indonesia.

Untuk melawan amnesia terhadap tragedi kemanusiaan yang berbasis etnis dan merayakan Sumpah Pemuda, Kelompok Kerja Bareng Civil Society didukung penuh Yayasan Denny JA mengadakan rangkaian acara pemutaran film dan diskusi. Senin 22 Oktober 2012 pukul 13.00 WIB. Pembicara yang diundang Stanley Yoseph Adi Prasetyodari Komnas Perempuan dan Andy Yentriyani dari Komnas Perempuan.

Kedua pembicara akan mengulas lika-liku dalam menagih Pemerintah dan pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap tragedi kemanusiaan itu. Dan bagaimana kita menyikapi pelanggaran HAM berat di masa lalu. Meskipun telah disahkan UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia di mana dalam Pasal 2 disebutkan:

“Yang menjadi warga negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.”—yang berarti eksistensi warga keturunan Cina semakin terlindungi secara hukum dan konstitusi—namun warga keturunan Tionghoa belum lepas dari stereotip. Intimidasi yang kadang-kadang mereka temui juga sering menggunakan trauma masa lalu, seperti ancaman kerusuhan, penjarahan dan perkosaan.

Intinya, Indonesia belum seperti Fang Yin yang sudah bisa berdamai dengan masa lalunya. Ingatan kolektif bangsa ini masih terbebani trauma berat akibat tragedi kemanusiaan.

Karya Denny JA dan Hanung Bramantyo

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas