Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Berkuda yang Mestinya tak 'Diperkuda'

JANGAN pernah menyepelekan kuda sebab kuda dari masa ke masa adalah simbol dari pekerja keras

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Toni Bramantoro

Catatan Tubagus Adhi

JANGAN pernah menyepelekan kuda sebab kuda dari masa ke masa adalah simbol dari 'pekerja keras'. Simaklah jeritan hati tentang kejenuhan dari rutinitas hidup yang dilantunkan 'Koes Plus' melalui 'Jemu', satu hard-beat populer dari legenda itu di era awal 1970-an, yang mengindentifikasi kuda sebagai perlambang kekuatan sekaligus korban. "Kerja keras bagai kuda, dicambuk dan didera. Semua tak kurasa, untuk mencari uang. Kurasa berat, kurasa berat beban hidupku. Ku tak tahu, ku tak tahu, oooo ku jemu.”

Jauh sebelum itu, paparan tentang kehebatan kuda amat lekat dalam mitologi Yunani maupun Tiongkok. Di masa lalu, cerita-cerita rakyat di Cina didominasi 'hikayat' tentang kuda yang dianalogikan sebagai sahabat anak manusia yang paling berjasa dan bermanfaat. Akan tetapi, ironisnya, meski dinilai sebagai binatang yang paling bermartabat, 'takdir' dari kuda ternyata tak lebih baik dari binatang sejenisnya, kerbau misalnya. Apakah Anda pernah mendengar istilah 'diperkerbau'? Pastinya belum. Istilah yang sangat lazim kita dengar adalah 'diperkuda'.

Dalam pergeseran ruang dan waktu, istilah diperkuda meluas menjadi idiom-idiom yang tidak menyenangkan. Di masa pergerakan, di negeri ini, ada masanya ketika kita begitu akrab dengan pengibaratan yang kerap dikemukakan media-masaa terkait orang-orang atau tokoh-tokoh mahasiswa yang 'diperkuda' untuk kepentingan politik. Secara umum, diperkuda diidentikan sebagai diperbudak oleh nafsu, entah nafsu amarah, atau nafsu ingin menguasai.

Diperkuda menjadi antitesis dari filosofi berkuda sebagai sebuah olahraga. Filosofi olahraga berkuda adalah bagaimana menciptakan sebuah keseimbangan dari dua kultur atau budaya yang berbeda yang tampil secara bersamaan, yakni antara anak manusia dan kuda. Berkuda menjadi satu-satunya cabang olahraga yang menampilkan kebersamaan manusia dan hewan di satu panggung. Sulit dilukiskan secara tepat dengan kata-kata untuk menggambarkan proses tumbuh kembangnya kebersamaan, keserasian atau keselarasan antara anak manusia dan hewan itu dalam pentas-pentas berkuda baik equestrian, polo atau horse-racing pada umumnya.

Di Indonesia, berkuda bisa menjadi cabang olahraga yang potensial memberi kontribusi atau apresiasi besar bagi bangsa. Apalagi, jika cabang olahraga ini tidak terkoyak. Ini terkait dengan pemisahan equestrian dari induk organisasi berkuda nasional, yakni Pordasi. Tuntutan kemandirian equestrian sekaligus membuat komunitas disiplin berkuda yang paling potensial mengharumkan nama bangsa ini menjadi terpecah-pecah atau terkotak-kotak.

Perpecahan ini tentu sangat disesalkan mengingat potensi besar dari para pelaku equestrian itu sendiri. Sangat disayangkan karena mereka pada dasarnya sama-sama memiliki rasa cinta yang demikian besar pada disiplin olahraga berkuda itu. Mereka juga adalah para pejuang equestrian yang sudah menjalani pengorbanan besar dari segi materi, waktu dan tenaga, dalam proses menumbuh-kembangkan sinergi dan sense of belonging dengan masing-masing hewan tunggangannya. Tidak mudah menjadi atlet atau rider yang baik atau mumpuni, karena itu terkait dengan proses panjang untuk menciptakan kebersamaan, keserasian, keselarasan atau saling pengertian dengan kudanya masing-masing.

Rekomendasi Untuk Anda

ETIKA ORGANISASI

Akan tetapi, di mana pun dan kapan pun, etika dalam berorganisasi tetap menjadi pegangan bersama. Prinsip dasar berorganisasi adalah bagaimana membentuk harmonisasi dan kebersamaan untuk satu tujuan. Untuk itu, pastinya, ada aturan yang tak boleh dilanggar. Ada norma-norma berorganisasi yang mestinya sama-sama harus dipatuhi.

Pordasi, yang berdiri sejak 1966, awalnya memang lebih terfokus untuk mengurusi pacuan. Akan tetapi, sejalan dengan perkembangan global equestrian, Pordasi pun terpacu untuk mengembangkan equestrian sehingga pada 13 September 1975 Pordasi pun diterima sebagai anggota Federation Equestre International (FEI) yang bermarkas di Lausanne, Swiss. Indonesia menjadi salah satu anggota FEI dengan equestrian tetap 'melebur' dalam wadah Pordasi, tidak seperti kebanyakan members FEI lainnya di mana equestrian memang berdiri sendiri, dan menjadi national federation atau NF.

Ketika equestrian semakin berkembang secara global dan menjadi satu-satunya disiplin olahraga berkuda yang dihadirkan di Olimpiade, disamping memiliki banyak single-event lainnya, mestinya Pordasi bisa meresponnya dengan cepat. Walau demikian, pembentukan Komisi Equestrian pada 2001, adalah antisipasi Pordasi dalam proses menjadikan equestrian lebih mandiri termasuk dengan keleluasaan yang diberikan kepada ECI (Equestrian Commission of Indonesia/Komisi Equestrian Indonesia) untuk berhubungan langsung dengan FEI sebagai payung internasional equestrian.

Kendati begitu, pembentukan ECI pada akhirnya memang tidak secara otomatis menjadi pemersatu bagi para pelaku pemangku atau pelaku equestrian. Tuntutan otonomi atau kemandirian penuh bagi equestrian terus mengemuka, bahkan diwarnai kongkalingkong dengan pribadi-pribadi dari institusi di Komite Olimpiade Indonesia (KOI) atau Komite Olahraga Nasional (KON). Ini terkait dengan adanya pengalihan sebagai Federasi Nasional (NF) equestrian dari semula dimiliki Pordasi (ECI), dilimpahkan kepada EFI. Lebih parah lagi, KON Pusat kemudian membuat noda besar dengan merestui keanggotaan EFI dengan mengabaikan etika berorganisasi.

EFI, yang didirikan pada 5 Februari 2009 melalui akte notaris Budiono Widjaya SH, bahkan sudah langsung bertindak sebagai pelaksana kompetisi berkuda SEA Games 2011. Hal ini menimbulkan tanda-tanya besar mengingat EFI bagaimanapun belum menjadi anggota dari KOI atau KON. Hingga saat ini, KOI secara resmi masih menjadikan Pordasi sebagai anggotanya, mengingat Pordasi masih resmi memayungi equestrian. Oleh karena itu, terkait dengan adanya indikasi penyalahgunaan dana pelaksanaan kompetisi cabor berkuda SEA Games 2011 sebesar Rp 1.6 miliar, Pordasi beralasan untuk lepas tangan karena memang tidak terlibat dalam pelaksanaan kompetisi cabor berkuda tersebut.

Dalam hubungannya dengan KOI, permohonan EFI untuk menjadi anggota KOI sebenarnya sudah berulangkali ditolak. Termasuk dengan permohonan yang diajukan pada 21 Desember 2011, setelah event SEA Games, yang resmi ditolak melalui surat KOI pada 5 Maret 2012. Dalam surat tersebut disebutkan, bahwa EFI belum dapat diterima menjadi anggota KOI karena belum memenuhi persyaratan untuk menjadi anggota KOI.

Pada rapat Exco KOI 27 Februari 2013, tetap diputuskan belum dapatnya EFI diterima sebagai anggota KOI. Sebaliknya, KOI masih mengakui equestrian yang berada dibawah wadah Pordasi.

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas