Ketika Lapangan Bola Tidak Lagi Hijau
Sekitar 16 tahun lalu media massa dunia ramai memberitakan perang pendapat antara dua maha bintang lapangan hijau Pele dan Maradona
Editor:
Toni Bramantoro
Oleh: Tommy Rusihan Arief
Sekitar 16 tahun lalu, media massa dunia ramai memberitakan perang pendapat antara dua maha bintang lapangan hijau, Pele dan Maradona.
Pele secara terbuka berpendapat, Maradona tidak mungkin menjadi pemain panutan, karena masa lalunya yang kelam sebagai pemakai narkoba. Apalagi menjadi pemain terbaik dunia abad ke 20.
"Bagaimana mungkin pemakai narkoba bisa menjadi panutan," kata Pele.
Sontak komentar Pele ini disambut cercaan balik oleh Maradona.
Kata Maradona, Pele juga tidak pantas menjadi panutan, apalagi pemain terbaik dunia abad ke 20.
"Pele punya masa lalu yang buruk. Dia pernah punya hubungan cinta dengan seorang lelaki, pelatih junior klub Santos," kata Maradona.
Menjelang tahun 2000,FIFA tengah menimbang-nimbang, siapa dari dua lagenda ini (Pele dan Maradona) yang layak dinobatkan menjadi pemain terbaik abad 20.
Akhirnya Pele dan Maradona sama-sama memperoleh kehormatan itu.
Serangan balik Maradona, tidak ditanggapi Pele, sampai dia meluncurkan buku berjudul "Pele: His Life and Times" sembilan tahun kemudian.
Isi bukunya antara lain menyatakan Pele adalah seorang lelaki sejati. Seorang pesepakbola terhebat sepanjang masa.
Pertengahan Maret 2009, Pele "menuduh" Ronaldo dan Robinho menggunakan narkoba pada sebuah pesta pribadi di Sao Paulo. Robinho yang saat itu masih bermain di Manchester City tidak tinggal diam.
"Itulah komentar rendahan seorang homosexsual,"sindir Robinho, kasus ini kemudian berakhir damai, setelah Pele minta maaf.
Tanggal 12 Juni di Krakoe, Polandia, dasar berlangsung Piala Eropa 2012, penyerang Italia, Antonio Cassano, terpancing pertanyaan wartawan.
Casano menyatakan mungkin saja ada pemain "gay" timnas Italia.
Sebulan kemudian tepatnya 20 Juli 2012, Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) menjatuhkan sanksi denda 15.000 Euro (sekitar Rp 172 juta) karena Peryataan Cassano dianggap diskriminatif.
Dengan fakta diatas, saya hanya ingin membuka matahati kita semua bahwa apapun pernyataan yang kita ungkapkan ke publik, memiliki dua konsekwensi logis: positif dan negatif.
Jika itu memberikan efek positif, tentu tidak ada masalah.Tetapi bagaimana jika berdampak negatif, terhadap siapapun yang dituduhkan secara personal.
Perang opini di media massa juga bukan tanpa konsekwensi. Apalagi saling serang untuk membenarkan posisi masing-masing, dengan tuduhan yang terlalu jauh.
Apalagi tidak disuling fakta yang cukup, sehingga masuk dalam lingkup pencemaran nama baik (pasal 310 KUHP).
Indonesia tetaplah Indonesia. SDA etika dan moral yang berlaku umum ditengah adat ketimuran kita.
Indonesia bukanlah Brazil atau Eropa, dimana para publik figur sepakbola bisa saling mempermalukan di ranah publik.
Sepakbola adalah sepakbola. Ketika urusan sepakbola dipaksa untuk dibawa keluar dari stadion, saat itulah warna lapangan bola tidak lagi hijau.
Sudah warna-warni, sesuai warna kepentingan individu atau kelompok. Ketika warna lapangan tidak lagi hijau, saat itulah bencana datang.
Dalam konteks perang opini, apa yang diperlihatkan oleh Pele, Maradona, Robinho, ataupun Cassano, bukanlah contoh yang baik bagi srpakbola Indonesia.
Walaupun prestasi sepakbola kita sehebat Brazil ataupun negara- negara Eropa, tetapi Indonesia haruslah memegang teguh etika dan moral.
Perang opini yang tanpa kontrol oleh "tokoh-tokoh sepakbola" Indonesia akhir/akhir ini semakin tidak terukur. Bahkan tuduhan-tuduhan semakin bersifat personal, demi kepentingan pribadi atau kelompok. Dalam banyak hal, tuduhan/tuduhan sering tidak disertai fakta yang memadai.
Ini sangatlah berbahaya!
Pihak pertama yang akan menerima efek buruk dari semua ini adalah sepak bola Indonesia. Masyarakat sepakbola Infonesia akhirnya dipaksa menonton drama "Hamlet" karya William
Shakespeare, di lapangan bola yang tidak lagi hijau, Sebuah keganjilan di siang bolong.
Kita semua perlu ingat, bahwa misi pembentukan PSSI oleh Ir Suratin dan kawan-kawan puluhan tahun lalu, adalah "sebagai alat pemersatu dan perjuangan bangsa".
Bukan organisasi politik yang menjadi anak tangga menuju panggung kekuasaan. Bukan pula institusi bisnis yang grafiknya dihitung Year on Year (YoY).
Mungkin, kita semua harus melihat dengan hati. Agar rasa benci tergantikan dengan cinta. Karena hanya dengan cinta, kita semua dapat menghargai anugerah Tuhan.
Hanya dengan cinta, lapangan bola akan tetap hijau.
"Kekuatan untuk mencintai adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Sebab kekuatan itu tidak akan pernah direngut dari manusia penuh berkat yang mencintai" (Kahlil Gibran)
Cinta juga dapat menumbuhkan kedamaian hati. Kedamaian hati mendorong kedamaian berpikir.
Dengan kedamaian hati dan kedamaian berpikir, akan dapat diraih pengertian, untuk perdamaian dan kehormatan sepakbola Indonesia.
"Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian" (Albert Einstein).
Agar lapangan bola bisa tetap hijau, diperlukan kedamaian hati dan kedamaian berpikir.
Sehingga diperoleh pengertian yang lebih tulus, untuk melihat kepentingan sepakbola Indonesia, dengan hati.
Jayalah sepakbola Indonesia.
* Tommy Rusihan Arief, mantan Ditektur Media PSSI
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan