Enigma Sepakbola Indonesia: Tuhan Tahu tapi Menunggu
TAK selembarpun daun jatuh tanpa sepengetahuan Allah
Editor:
Toni Bramantoro
Oleh: TB Adhi
TAK selembarpun daun jatuh tanpa sepengetahuan Allah. Itulah salah satu penggalan dari khutbah shalat Jumat yang masih terngiang-ngiang ditelinga saya.
Walau demikian, bukan hanya kalimat itu yang menginspirasi paparan ini.
Sebuah kalimat yang dikemukakan oleh Menpora Imam Nahrawi, masih di hari yang sama namun di tempat dan suasana berbeda, turut memberi sinergi.
Intisari dari apa yang disampaikan Imam Nahrawi adalah "Mari berjihad bersama saya".
"Dalam akidah Islam yang saya fahami, tak ada hal sekecil apa pun yang luput dari pandangan Allah swt, sebagaimana juga disampaikan oleh khotib shalat Jumat di dekat kediaman saya itu. Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsitem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Mungkinkah ini bisa dikaitkan dengan konstelasi yang terjadi dalam persepakbolaan nasional sekarang, yang kian menyerupai labirin? Mungkinkah ini hanya sebuah faktor kebetulan--karena kebencian Menpora Imam Nahrawi kepada La Nyalla Mahmud Mattalitti, ketua umum PSSI 2015-2019? Akan tetapi, kebencian sedalam apa yang pada akhirnya bisa menyebabkan sepakbola Indonesia ini hancur lebur? Kebencian tanpa dasar yang kemudian disemangati dengan unsur politis. Politisasi sepakbola inilah yang membuat sepakbola Indonesia diambang kehancuran total. Sepakbola Indonesia yang seharusnya adalah sepakbola dalam tatanan pergaulan internasional. Bukan sepakbola Indonesia seperti yang diinginkan menpora, dengan menghidupkan klub-klub kloningan atau membentuk klub baru di luar sistem yang sudah baku. Inilah situasi di mana kita sudah sampai pada asumsi sulit untuk mengetahui bagaimana kesudahannya. Mungkin hanya Menpora Imam Nahrawi yang mengetahuinya. Atau, siapa pun yang berada dibelakangnya. Bisa jadi, Presiden Joko Widodo sendiri--berkaca dari apa yang kerap dikemukakannya mengenai 'revolusi sepakbola Indonesia'. Tetapi, revolusi seperti apa? Revolusi yang mengubah tatanan keteraturan prinsip-prinsip dasar dan hukum sepakbola global? Jika memang itu yang diinginkan, sebagian sudah berhasil dilakukan, akan tetapi buah dari revolusi seperti ini adalah kehancuran total sepakbola Indonesia dalam galaksi persepakbolaan internasional.
NEGARA VS FIFA
Yang mungkin tidak disadari oleh menpora, atau siapapun yang 'membekinginya', serta orang-orang larut dalam keasyikan menatap fatamorgana pembenaran mereka, adalah bahwa mereka tidak sedang memerangi otoritas sepakbola nasional (PSSI).
Mereka harus menerus disadarkan bahwa mereka tengah melakukan penentangan kepada FIFA, sejatinya kepada Statuta FIFA.
Dalam konteks ini saya juga harus mengetengahkan kembali sebuah paradoks yang tidak menyenangkan, akan tetapi sekaligus menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.
Bacalah 'Kedaulatan Negara vs Kedaulatan FIFA', dari disertasi Hinca Pandjaitan kini sekjen Partai Demokrat--untuk memperoleh gelar Doktor-nya, beberapa tahun lalu.
Bahwa semakin pemerintah bersikap 'semau gue', atau kian semena-mena perangainya, maka bertambah sulit pula membuat FIFA memberi 'maaf' pada Indonesia.
Suka atau tidak suka, itulah kenyataannya. FIFA tak pernah mengalah pada intervensi pemerintah. Berbagai telaah atau tesis-tesis ilmiah tentang 'pencengkeraman sepakbola' oleh pemerintah, seperti yang sudah terjadi di banyak negara, tak pernah 'happy ending' untuk kemenangan di pihak negara.
Memang, pada sebagian negara, skorsing atau suspend yang mereka terima, kemudian membuat mereka lebih maju.
Akan tetapi, bukan berarti untuk memperoleh kemajuan mereka harus lebih dulu diskorsing. Jika itu menjadi hal yang tak terbantahkan, sebagian besar negara anggota FIFA tentu wajib meminta untuk di suspend--dengan pertimbangan setelah itu mereka akan lebih berkembang atau maju pesat, teristimewa tim nasionalnya.
JIHAD
Dalam upaya mengukur keserbarahasiaan atau teka-teki dari apa yang dilakukan menpora ini, tak sedikit insan sepakbola yang bersikap, kita kembalikan saja pada doa-doa panjang kita sebelum tidur. Pada doa-doa kita setelah shalat.
Semoga segala sesuatunya akan segera membaik.
Semoga Tuhan Yang Maha Baik segera mengembalikan sepakbola Indonesia pada tatanan yang sebenarnya, dalam aturan dan ketentuan sebagaimana tertuang dalam Statuta FIFA.
Tuhan Tahu tapi Menunggu, demikian disampaikan beberapa teman.
Mereka mengutip judul sebuah cerita dari seorang pengarang terkemuka Rusia, Leo Tolstoy. Waktu memang terus bergerak, tahun berlalu, manusia berganti, tapi perangai manusia nyatanya merupakan sejarah yang terus berulang.
Di mana saja, perbuatan baik atau buruk manusia sama saja. Selalu terulang.
Apakah yang dilakukan menpora dengan 'mencengkeram' sepakbola seperti sekarang ini dikategorikan sebagai perbuatan baik, tentu tidak jika dilihat dari sudut pandang bahwa sepakbola adalah milik FIFA, sebagaimana bisa dianalogikan bahwa PSSI tentu bukan milik La Nyalla MM seorang.
Tetapi, dari sisi lain, sikap dan perilaku menpora terhadap sepakbola itu tentu disetujui oleh orang-orang yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Orang-orang yang bersikap 'yes man'.
Orang-orang yang ingin mencari keuntungan untuk diri sendiri dan kelompoknya.
Atau, orang-orang yang ingin memiliki kekuasan. Kalau sudah begitu, mereka menutup telinganya untuk mendengarkan kebenaran.
Bahkan, apa pun kebenarannya bisa disalahkan, atau tak perlu ditanggapi. Termasuk misalnya dengan memasabodohkan keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), yang memerintahkan menpora untuk mencabut surat pembekuan PSSI.
Pembenaran atas berbagai hal yang terus mewarnai keterpurukan sepakbola Indonesia inilah yang mestinya tidak boleh didiamkan. Pernyataan menpora yang mengajak orang berjihad bersamanya untuk 'membenahi' sepakbola Indonesia juga tidak pada tempatnya.
Terus terang pengetahuan atau wawasan keagamaan saya tak ada apa apanya dibanding menpora. Namun dalam pengetahuan saya yang amat minim ini jihad, menurut syariat Islam, adalah 'berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan misi utama manusia, yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dengan damai dan saling mengasihi.
Namun dalam berjihad, Islam melarang pemaksaan.
* TB Adhi, pemerhati sepakbola nasional
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan