Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Blog Tribunners

Menakar Keberhasilan Sistem Integrasi Sapi Sawit

Keinginan pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi daging melalui sistem integrasi sapi sawit patut diapresiasi, namun tanpa dukungan kelambagaa

Menakar Keberhasilan Sistem Integrasi Sapi Sawit
Ist
Sapi Bali

TRIBUNNERS - Keinginan pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi daging melalui sistem integrasi sapi sawit patut diapresiasi, namun tanpa dukungan kelambagaan keinginan tersebut tidak akan pernah terwujud.

Berdasarkan data, peternakan sapi potong di Kalimantan Timur hanya mampu memenuhi sekitar seperempat dari kebutuhan pasar.

Sisanya didatangkan dari luar Kaltim. Permasalahan tersebut sebenarnya talah lama muncul, namun belum ditemukan formula yang tepat untuk memecahkannya.

Kendala utama dalam budidaya sapi potong yang dihadapi oleh peternak adalah masalah minimnya ketersedian pakan yang berkualitas.  

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mencoba mengembangan sistem integrasi sapi sawit.

Dengan sistem ini diharapkan keterbatasan akan pakan ternak dapat dipenuhi dari pengelolaan limbah sawit.

Namun dalam implementasinya sistem tersebut belum berjalan sebagimana diharapkan. Sejak diluncurkan, tidak banyak perusahaan perkebunan sawit yang ikut ambil bagian.

Padahal tanpa dukungan perusahaan, para peternak tidak akan dapat membuat pakan komplit. Dengan kondisi tersebut sistem integrasi sapi sawit tidak akan dapat berjalan.

Pengusaha sawit enggan ikut ambil bagian dalam sistem tersebut karena menganggap usaha sapi potong belum menguntungkan.  Untuk mengatasi hal ini pemerintah daerah perlu merancang kelembagaan agar perusahaan sawit mau melakukan kerja sama  dengan peternak.

Sistem Integrasi Sapi-Sawit

Sistem integrasi sapi sawit merupakan salah satu bentuk impelementasi  sistem integrasi tanaman ternak (SITT).

Di dalam konsep sistem integarasi sapi sawit, limbah kelapa sawit dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi.

Sedangkan kotoran sapi, padat maupun cair, dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman sawit. Penerapan sistem ini selain dapat meningkatkan populasi sapi, juga dapat meningkatkan kesuburan tanah yang ditanami kelapa sawit.

Terdapat delapan keuntungan bagi peternak di perdesaan dengan menerapkan sistem integrasi tanaman ternak (SITT), yang salah satunya integrasi peternakan sapi dan perkebunan kelapa sawit.

Yaitu diversifikasi penggunaan sumberdaya produksi, mengurangi resiko usaha karena faktor produksi, efisiensi penggunaan tenaga kerja, efisiensi penggunaan input produksi atau mengurangi biaya produksi, mengurangi ketergantungan energi kimi dan dan biologi serta sumber masukaan lainnya.

Sistem ekologi lebih lestari serta tidak menimbulkan polusi sehingga ramah lingkungan, meningkatkan produksi atau pendapatan keluarga, mampu mengembangkan rumah tangga petani yang lebih mandiri dalam hal pangan, energi (biogas) dan pendapatan secara berkelanjutan.

Kedelapan keuntungan tersebut diperoleh karena adanya sinergi antar kegiatan, yang pada gilirannya tidak ada limbah yang terbuang (zero waste). Tidak ada limbah yang terbuang dengan sendirinya akan meningkatkan efisiensi yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan.

Model Pengembangan Sapi dalam Sistem Integrasi Sapi-Sawit

Integrasi usaha sapi sawit dapat dilakukan kemitaran oleh perusahaan perkebunan, karyawan, masyarakat dan peternak di sekitar perkebunan kelapa sawit. pola kemitraan ini melipuit inti-plasma, bagi hasil dan bentuk lainnya, yang dilakukan berdasarkan perjanjian yang saling memerlukan, memperkuat, menguntungkan dan berkeadilan.

Model yang dapat diterapkan adalah model pola inti plasma (PIP) dan pola kerja sama oprasional agribisnis (PKOA). Pada model PIP, koperasi atau perusahaan perkebunan kelapa sawit berperan sebagai inti dan kelompok tani-ternak sebagai plasma.

Sedangkan pada model PKOA, kelompok tani-ternak menyediakan  sarana produksi dan perusahaan menyedikan permodalan atau sarana lain yang tidak dapat dipenuhi kelompok.

Dari kedua model tersebut, model yang dapat diterapkan adalah PIP sedangkan PKOA baru dapat diterapkan ketika peternak sudah memiliki modal untuk menyediakan sarana produksi sehingga dapat menjadi mitra perusahaan.

 Bagaiman implementasi sistem integrasi sapi sawit?

Namun untuk mengimplementasikan sistem integrasi sapi sawit tidaklah semudah membalik telapak tangan.  Berdasarkan data kementan, hingga tahun 2013, dari sekitar 1.500 sampai 2.000 perkebunan sawit baru 5 perusahaan yang melakukan integrasi. Atau dengan kata lain sistem integrasi sapi sawit masih sepi peminat.

Kurangnya minat perkebunan sawit untuk terlibat dalam sistem tersebut menjadi tantangan yang harus diatasi oleh pemerintah.

Tanpa adanya dukungan dari perusahaan perkebunan sawit maka peluang peternak untuk memperoleh pakan lengkap menjadi mustahil. Mustahil karena beberapa bahan baku pakan lengkap merupakan limbah dari pabrik CPO milik perusahaa.

Mengapa sistem integrasi sapi sawit kurang peminat? Ada banyak alasan yang muncul menurut versi pengusaha, diantaranya ternak sapi dapat merusak/memakan tanaman sawit yang masih muda, ternak sapi dapat memadatkan media tanah sehingga mengganggu kesuburan sawit, ternak sapi dapat membawa parasit yang merugikan tanaman sawit.

Sebenarnya persoalan tersebut dapat diatasi dengan menerapkan sistem pemeliharaan secara intensif, yaitu, ternak sapi dikandangkan jauh dari perkebunan sawit. Alasan sebenarnya, pengusaha sawit belum memandang bisnis sapi potong sebagai bisnis yang menjanjikan keuntungan.

 Perlunya perancangan kelembagaan

Lalu pertanyaannya apakah sistem integrasi sapi sawit masih mungkin untuk dikembangkan? Jawabnya ya, masih mungkin namun tidak mudah. Sistem integrasi sapi sawit dapat berjalan selama ada kerjasama.

Tentu saja kerjasama tersebut akan sulit dilakukan secara business to business. Kepentingan yang berbeda menjadi hambatan utama yang harus dipecahkan. Kebutuhan akan limbah sawit bagi para peternak tidaklah sama dengan kebutuhan akan pupuk kandang organik bagi perkebunan kelapa sawit.

Bagi peternak kebutuhan akan limbah sangat krusial, akan tetapi bagi perusahaan pekerbunan sawit penggunaan pupuk kandang belum mendesak.

Oleh karena itu, menurut hemat penulis, pemerintah perlu merancang kelembagaan untuk mengatasi hal tersebut. salah satu yang dapat diterapkan adalah konsep pemerintahan kolaboratif.

Proses ini dapat berlangsung lama namun karena outputnya adalah konsensus, konsep tersebut dapat diandalkan. Konsensus dapat memberikan kepastian bagi para peternak akan terhadap ketersedian pakan.

Sehingga, menurut penulis, agar penerapan sistem integrasi sapi sawit dapat berajalan sebagaimana yang diharapkan, kendala dalam kelembagaan perlu diprioritaskan untuk diatasi.

Tanpa adanya kelembagaan yang mengikat kerjasama antara perusahaan perkebunan sawit dengan kelompok petani-ternak maka sistem integrasi sapi-sawit tidak akan dapat berkembang dengan baik. 

Ikuti kami di
Penulis: Herryansyah Nur
Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas