Potensi Perikanan Melimpah Seharusnya Nelayan Aceh Sejahtera
Provinsi Aceh merupakan provinsi yang dianugerahi potensi perikanan dan kelautan yang melimpah.
Penulis:
ilham zulfahmi
Ditulis oleh : Ilham Zulfahmi, Dosen Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Almuslim
TRIBUNNERS - Provinsi Aceh merupakan provinsi yang dianugerahi potensi perikanan dan kelautan yang melimpah.
Aceh memiliki panjang garis pantai 1660 km dengan luas wilayah laut 295.370 km2 yang terdiri dari 56.563 km2 daerah laut teritorial dan kepulauan serta 238.807 km2 yang merupakan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
Produksi perikanan laut aceh terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Pada tahun 2014 produksi perikanan laut mencapai 154.487,40 ton, meningkat 8 % dari sebelumnya 145.883,6 ton pada tahun 2012.
Nilai produksi perikanan laut aceh pada tahun 2014 mencapai 2.9 Triliun rupiah (Aceh Dalam Angka, 2015). Diperkirakan potensi lestari perikanan laut aceh mencapai lebih dari 200.000 ton pertahun
Peningkatan produksi perikanan laut ini juga diiringi dengan peningkatan armada tangkap dan jumlah masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan.
Jumlah armada tangkap pada tahun 2014 mencapai 17.414 armada.
Armada tangkap terbesar merupakan kapal motor dengan ukuran lebih kecil dari 5 GT (6.768 unit), sedangkan untuk kapal motor dengan ukuran lebih besar 30 GT mencapai 244 unit (Statistik perikanan tangkap Aceh, 2014).
Jumlah masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan pada tahun 2014 mencapai 70.864 jiwa meningkat dari sebelumnya 64.466 jiwa pada tahun 2012.
Kondisi kesejahteraan nelayan Aceh
Besarnya potensi perikanan laut dinilai masih belum berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan nelayan Aceh.
Walaupun sampai saat ini belum ada data yang akurat mengenai profil penduduk miskin aceh, termasuk didalamnya data kemiskinan nelayan Aceh, akan tetapi jika dikaitkan dengan prosentase jumlah penduduk miskin Aceh yang mencapai 17,11 % (diatas rata-rata nasional) maka diduga kuat sebagai besar masyarakat Aceh yang berprofesi sebagai nelayan masih belum mencapai kondisi yang sejahtera.
Tidak adanya data kemiskinan nelayan seyogyanya akan mempersulit pertanggungjawaban pemerintah terhadap publik.
Tanpa adanya instrumen pengukuran kemiskinan nelayan secara reguler, maka sulit untuk mengukur keberhasilan program pembangunan perikanan.
Salah satu indikator yang sering digunakan pemerintah untuk mengukur produktivitas nelayan adalah dengan melandasinya pada armada tangkap.
Padahal sebenarnya cukup sulit mengatakan bahwa nelayan dengan armada tanpa motor, motor tempel dan kapal motor dengan ukuran dibawah 5 GT pasti miskin, begitu pula sebaliknya masih sulit untuk mengatakan bahwa nelayan dengan armada kapal motor diatas 30 GT pasti tidak miskin.
Salah satu contohnya adalah nelayan tradisional motor tempel yang menangkap kerapu dan kakap akan memperoleh hasil yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan Anak Buah Kapal yang ikut kapal motor diatas 30 GT.
Penyebab kemiskinan nelayan
Arif Satria (2009) menjelaskan faktor penyebab kemiskinan nelayan dibagi menjadi tiga macam, kemiskinan struktural, kemiskinan kultural dan kemiskinan alamiah.
Kemiskinan struktural merupakan kemiskinan yang disebabkan karena struktur ekonomi, strukstur sosial dan struktur politik yang tidak kondusif bagi peningkatan kesejahtraan masyarakat pesisir.
Beberapa contoh situasi yang dapat mengakibatkan terjadinya kemiskinan stuktural adalah tidak stabilnya pasokan BBM untuk kebutuhan melaut.
Kelangkaan BBM terjadi hampir setiap tahun di Aceh. Kelangkaan BBM tersebut telah menyebabkan ratusan nelayan tidak bisa melaut.
Hal ini berdampak negatif bagi nelayan tanpa usaha sampingan yang terpaksa berhutang untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
Tidak tersedianya dan tidak berfungsinya cold storage, masih tingginya angka pencurian ikan di laut serta susahnya akses permodalan bagi nelayan juga merupakan penyebab terjadinya kemiskinan nelayan secara struktural.
Kemiskinan kultural merupakan kemiskinan yang disebabkan oleh faktor budaya seperti kurangnya kepedulian dan rendahnya etos kewirausahaan.
Masih tingginya penggunaaan alat tangkap ikan tidak ramah lingkungan merupakan salah satu permasalahan kultural yang dihadapi saat ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya trawl (pukat harimau) yang beroperasi di perairan Aceh Utara dan Lhokseumawe serta masih maraknya penggunakan bahan peledak untuk bom ikan di perairan Simeulue.
Kultur nelayan aceh yang masih menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti ini akan menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan perairan yang berdampak terhadap menurunnya stok ikan dimasa yang akan datang.
Kemiskinan alamiah terjadi karena kondisi sumberdaya alam yang serba terbatas untuk kepentingan kegiatan produksi.
Salah satu isu global penting yang berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan adalah perubahan iklim dan pemanasan global.
Meningkatnya suhu permukaan laut merupakan suatu ancaman terhadap kelestarian terumbu karang. Rusaknya terumbu karang secara langsung akan berdampak terhadap menurunnya hasil tangkapan nelayan.
Solusi menuju kebangkitan nelayan
Untuk mewujudkan nelayan Aceh yang unggul dan profesional, semua elemen harus bahu membahu dan bersinergi menanggulangi berbagai penyebab terjadinya kemiskinan, baik secara struktural, kultural dan alamiah.
Nelayan yang unggul adalah nelayan yang mampu secara optimal memanfaatkan berbagai potensi yang dimilikinya baik dari sisi finansial, teknologi maupun sosial untuk menigkatkan kesejahteraannya.
Sedangkan Nelayan yang profesional adalah nelayan yang berintegritas dan fokus menjalani profesinya tanpa terlalu harus khawatir terhadap berbagai faktor ekternal yang dapat menghambat usahanya.
Beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan adalah, secara struktural pemerintah Aceh diharapakan mampu menjaga stok dan harga BBM untuk keperluan melaut nelayan.
Disamping daripada itu, fasilitas penunjang aktivitas perikanan seperti cold storage dan pabrik es hendaknya terus dikembangkan dan dapat difungsikan secara optimal.
Penyediaan data statistik yang akurat dan terpercaya mengenai profil kesejahteraaan nelayan merupakan hal yang tidak kalah penting.
Data statistik ini akan menjadi instrumen dalam menentukan arah kebijakan pemerintah kedepan.
Usaha pemerintah dalam meminimalisasi penyebab kemiskinan nelayan secara struktural harus terus ditingkatkan dan dipertegas.
Hal ini penting untuk menghindari stigma bahwa secara tidak langsung nelayan Aceh telah dan terus dimiskinkan.
Secara kultural, peningkatan kesadaran nelayan dalam menjaga lingkungan dapat dilakukan secara normatif, regulatif dan kognitif.
Secara normatif dan regulatif, diperlukan adanya regulasi yang diiringi tindakan tegas terhadap nelayan/pelaku yang menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.
Hal ini dilakukan sebagai upaya pemberian efek jera kepada pelaku sekaligus merupakan langkah preventif agar tindakan tersebut terulang dimasa yang akan datang.
Sedangkan secara kognitif, perlu dilakukan pengedukasian dan sosialisasi kepada nelayan tentang jenis alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, sangsi hukum dan dampak lingkungan yang terjadi akibat penggunaan alat tangkap tersebut.
Dalam hal menigkatkan etos kewirausahaan, pelatihan produk inovatif dari hasil perikanan juga harus ditingkatkan.
Universitas sebagai lembaga riset diharapkan lebih menaruh perhatian dalam hal menciptakan produk inovatif baru dan strategi pemasaran yang adaptif sehingga dapat diterapkan oleh nelayan untuk mengembangkan usaha.
Upaya peningkatan pendidikan kepada anak nelayan juga merupakan salah satu faktor penting.
Diharapkan kedepan bahwa anak nelayan atau masyarakat lain dari generasi berikutnya dapat meneruskan usaha orang tua mereka sebagai nelayan dengan teknik penangkapan yang lebih baik, teknologi yang lebih canggih, pengolahan produk yang lebih inovatif, serta pemasaran yang berdaya saing.
Secara alamiah, terurama dalam menyikapi fenomena pemanasan global dan perubahan iklim, diperlukan komitmen dan kerjasama dari semua pihak, baik dalam skala lokal, regional maupun global.
Pengelolaan limbah, energi terbarukan, pengurangan emisi udara serta meminimalisir deforestasi merupakan beberapa opsi yang dapat dilakukan dalam merespon perubahan iklim dan pemasanan global.
Selain daripada itu, kesadaran masyarakat untuk merubah gaya hidup menjadi lebih “green” juga perlu ditingkatkan.
Nelayan adalah profesi mulia yang berkontribusi penting dalam menjaga ketersediaan stok ikan bagi masyarakat.
Ikan adalah salah satu sumber protein penting bagi masyarakat.
Gizi ikan mengandung Omega-3 khususnya DHA yang sangat baik bagi kesehatan dan pengembangan kecerdasan (intelektual).
Oleh karena itu sudah saatnya nelayan Aceh berhak mendapatkan pemikiran terbaik.
Dengan adanya perubahan secara struktural, kultural dan alamiah, paradigma masyarakat yang menyatakan bahwa nelayan adalah profesi yang identik dengan kemiskinan (melarat di darat “meukarat” dilaut) akan berubah menjadi suatu profesi yang membanggakan, dihargai dan dicita-citakan. Semoga!
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan