Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Perempuan Disabilitas Punya Hak yang Sama Dalam Pendidikan

Teriknya matahari di kota Daeng ini tak serta merta membuat saya urung melaksanakan tugas. Api semangat yang berkobar-kobar memudahkan langkah saya un

Perempuan Disabilitas Punya Hak yang Sama Dalam Pendidikan
TRIBUNNEWS.COM/FERDINAND WASKITA
Penyandang disabilitas di acara GAUN, Kamis (3/6/2010).

Beberapa diantara mereka ternyata masih memiliki semangat dan harapan besar untuk melanjutkan pendidikan mereka suatu saat nanti meski mereka telah berkeluarga. ketika ditanya mengenai alasan mereka, faktor ekonomi, krisis kepercayaan diri,  dan budaya patriarki merupakan alasan dan permasalahan inti mereka.

“Budaya patriarki masih kental dalam masyarakat kita, dan itu juga tak terkecuali pada perempuan disabilitas. Hal itu dapat dilihat dalam tindakan suboordinasi dan streotipe yang dilakukan oleh pihak keluarga terhadap anak perempuannya yang disabilitas. Ketika orangtua memiliki sepasang anak yang disabilitas, orang tua akan cenderung memberi pendidikan yang lebih tinggi terhadap anak yang pria tersebut sebab mereka telah lebih dahulu melabel-labelkan mereka bahwa anak lelakinya adalah calon punggung keluarga dengan mencari nafkah untuk mereka, sedang anak perempuan tak perlu bersekolah tinggi sebab ujung-ujungnya ia akan kembali ke dapur,” terang Maria Ulf, Ketua HWDI Sulsel saat saya temui pada pekan lalu di sekertariat HWDI dan PPDI Sul-Sel.

Setelah berbincang-bincang dengan lebih lama bersama beliau, saya pun berpikir dan menyimpulkan bahwa tindakan-tindakan ketidakadilan ini sejatinya berawal dari pola pikir kolot yang masih mendarahdaging di tengah-tengah keluarga yang lalu ditularkan dalam sosial masyarakat yang lebih luas.

Oleh sebab itu, langkah awal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan ini tentu juga harus dimulai dari peran keluarga, melakukan perubahan-perubahan pola pikir dan pembuktian kepada masyarakat bahwa tak ada perbedaan antara pria maupun perempuan, khususnya dalam aspek pendidikan sebab setiap manusia memiliki kemampuan  yang tak terbatas dalam otaknya, terlebih ketika mereka memiliki bakat yang khusus.

Salah satu pembuktian tersebut dapat dilihat melalui kehidupan beberapa perempuan disabilitas, seperti Badriah, tuna netra  yang kini melanjutkan pendidikannya di Universitas Muslim Indonesia dan di samping itu ia berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, bahkan ia memiliki bakat tilawah yang luar biasa yang telah mengantarkannya pada kejuaraan tingkat nasional.

Adapun saya sendiri sebagai pemilik tulisan ini saya pun seorang tuna netra yang kini menempuh pendidikan S1 di Universitas Hasanuddin dan saya memang seorang penulis.

Masalah biaya kuliah yang selalu menjadi permasalahan sebagian masyarakat, saya pikir hal itu bukanlah tembok untuk melanjutkan pendidikan tinggi sebab saya berhasil menangani permasalahan itu dengan memeroleh beasiswa hingga saya menyelesaikan pendidikan S1.

Selama terdapat tekad yang kuat, kesungguhan,  dan usaha keras tentu tak ada yang mustahil. Hasil tak pernah mengkhianati kerja keras. Jadi, semua perempuan disabilitas sangat layak untuk berpendidikan tinggi. 

Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas