Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Membaca Karya Seni Kemanusiaan Romo Mangun

Kebetulan saya sendiri penyuka karya-karya Romo Mangun, dan buku “Burung-Burung Manyar”, “Ikan Duyung yang Mendamba”

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Toni Bramantoro
zoom-in Membaca Karya Seni Kemanusiaan Romo Mangun
foto: Alex Palit
Peluncuran dan bedah buku novel biografis “Mangun” (Romo Mangunwijaya) 

Oleh: Alex Palit

Jumat (26/8) kemarin,  saya ke TB Gramedia – Matraman, menemani anak cari buku, sekalian menghadiri undangan peluncuran dan bedah buku novel biografis “Mangun” (Romo Mangunwijaya), yang ditulis oleh Sergius Sutanto.

Kebetulan saya sendiri penyuka karya-karya Romo Mangun, dan buku “Burung-Burung Manyar”, “Ikan Duyung yang Mendamba”, dan “Sastra Religiositas” masih tersimpan.

Kebetulan saya sendiri belum baca novel biografis “Mangun”. Tapi paling tidak lewat novel biografis ini akan menjadi  bacaan tersendiri bagi penyuka karya-karya Romo Mangun, untuk jauh lebih mengenal apa dan siapa sosok rohaniawan yang dikenal sebagai pembela kemanusiaan kaum miskin.

Di sini saya juga ingin berpanjang-panjang apa dan siapa serta sepak terjang Romo Mangun dengan segala aksi kemanusiaan, karena saya yakin banyak yang lebih tahu dan lebih mengenal daripada saya.

Di sini saya hanya ingin mengutip dari kutipan moderatornya yaitu Jaya Suprana, yang menyebutkan bahwa karya seni maha agung adalah kemanusiaan. Dan novel biografis yang ditulis oleh Sergius Sutanto ini juga bernilai sebagai  karya seni humanisme.

Dari kutipan ucapan Jaya Suprana ini merupakan benang merah dari novel “Mangun”, membaca karya seni kemanusiaan Romo Mangun.

Rekomendasi Untuk Anda

Pertanyaan kita sekarang, sepeninggal beliau, adakah Mangun, Mangun, Mangun yang lain, berjuang membela orang-orang pinggiran yang terpinggirkan oleh derap pembangunan maupun arogansi kekuasaan. Lagi-lagi saya mengutip ucapan Jaya Suprana,

“Yang harus digusur kemiskinan, bukan orang miskin digusur. Kutipan-kutipan itu yang saya catat dan menjadi catatan di peluncuran dan bedah buku “Mangun”.

Paling tidak dari novel “Mangun” ini kita lebih mengenal apa dan siapa sosok pejuang pemanusiaan manusia Kali Code dan penggusuran waduk Kedungombo, selain mengenal dari karya-karya dan tulisannya.

@ Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”, pendiri Forum Apresiasi Musik Indonesia (Formasi) dan Komunitas Pecinta Bambu Unik Nusantara.  

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas