Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Ada Apa di Tanggal 31 Mei 2018?

Tapi ironisnya, mari cek beberapa ilustrasi penyikapan negara secara pidana dan perdata terhadap masalah anak dan rokok.

Editor: Malvyandie Haryadi
Ada Apa di Tanggal 31 Mei 2018?
TRIBUNNEWS
Reza Indra Giri Amel 

TRIBUNNERS - Tanggal 31 Mei esok dirayakan dunia sebagai Hari Tanpa Tembakau.

Tapi ironisnya, mari cek beberapa ilustrasi penyikapan negara secara pidana dan perdata terhadap masalah anak dan rokok.

Pertama, pernahkah ada perkara hukum di PN di Indonesia yang mengangkat pasal 76J ayat 2 UU Perlindungan Anak (UUPA)? Sepertinya belum ada satu pun. Padahal jumlah anak Indonesia yang menjadi first, second, dan third hand smoker pasti amat sangat banyak sekali.

Baca: Lucunya Gempita Saat Protes Pake Bahasa Inggris ke Gading karena Tak Diajak Ngobrol Ayahnya

Tidak hanya karena masyarakat dan hukum belum menganggap serius dan genting masalah anak sebagai perokok aktif, anak sebagai perokok pasif, serta anak pengisap residu rokok yang tertinggal di berbagai barang di dekat anak.

"Zat adiktif lainnya" pada pasal 76J ayat 2 juga masih terlalu abu-abu untuk dikaitkan dengan tembakau dan kandungan beracun lainnya dalam rokok.

Karena itu, lakukan revisi terhadap UUPA agar rokok dicantumkan sama eksplisitnya dengan alkohol, narkotika, dan psikotropika.

Juga, Ikatan Dokter Indonesia sepatutnya mengeluarkan fatwa yang menjelaskan bahwa kandungan rokok merupakan salah satu rincian "zat adiktif lainnya".

Ini bermanfaat bagi otoritas penegakan hukum untuk memproses secara pidana anak yang menjadi pecandu, sakit parah, dan meninggal dunia akibat rokok.

Kedua. Pernahkah hakim di Indonesia memerhatikan perilaku merokok orang tua yang bercerai dan tengah memperebutkan kuasa asuh anak? Hampir bisa dipastikan belum pernah ada.

Padahal orang tua wajib mengupayakan pemenuhan hak anak untuk hidup sehat. Rokok juga diakui sebagai bahaya besar bagi kesehatan anak.

Alhasil, sebelum menentukan siapa yang akan memegang kuasa asuh anak (korban perceraian), hakim sepatutnya mengecek perilaku merokok orang tua.

Ayah maupun bunda yang akan bercerai, dan diketahui mencandu rokok, pantas diragukan kompetensinya untuk berperan sebagai pemegang kuasa asuh.

Bahkan, orang tua yang mengabaikan apalagi mendorong anak untuk menjadi perokok sudah sepantasnya diproses sebagai pelaku kekerasan atau pun penelantaran terhadap anak.

Reza Indragiri Amriel
Kabid. Pemenuhan Hak Anak, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI)

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas