Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Empat Sukses dari Asian Games dan Asian Para Games, Indonesia Semakin Siap Pentaskan Olimpiade 2032
BELASAN jam yang baru lalu kita baru saja menyaksikan prosesi penutupan dari Asian Para Games III-2018 yang dilangsungkan di Stadion Madya, Komplek Ge
Editor: Toni Bramantoro
Keseriusan pemerintah sudah bersama-sama kita lihat, bagaimana dalam waktu yang relatif singkat dapat membangun dan merevitalisasi venues-venues untuk Asian Games XVIII dan Asian Para Games III secara komprehensif dan memuaskan.
Presiden Jokowi secara luar biasa kemudian melakukan sesuatu yang selama ini belum pernah dilakukan, yakni memuliakan para atlet peraih medali di Asian Games XVIII dan Asian Para Games III dengan memberikan bonus mereka sebelum persaingan kedua event ini tuntas! Bonus yang diberikan juga sama.
Ini sesuatu yang belum pernah dilakukan sepanjang republik ini berdiri dan duta -duta olahaga kita membela nama baik bangsa di berbagai multi -event atau single-event.
Presiden Jokowi tidak hanya memberikan bonus kepada para peraih medali, akan tetapi juga tetap memberikan tambahan uang saku kepada atlet yang belum beruntung menyumbang medali, baik di Asian Games maupun Asian Para Games.
ASIAN GAMES DAN ASIAN PARA GAMES MEMBERIKAN PELAJARAN KESANTUNAN BERPOLITIK
Pasca Asian Games XVIII dan Asian Para Games III-2018 Indonesia akan langsung menghadapi Pemilihan Umum yang amat bersejarah. Yakni, karena untuk pertama kalinya Indonesia akan memilih pemimpin negara (presiden dan wapres), serta wakil -wakil rakyat di DPR, DPRD dan DPD secara bersamaan pada 19 April 2019 mendatang.
Kita berharap persatuan, kesatuan, kebersamaan dan semangat bela negara yang diperlihatkan secara luar biasa dengan kesantunan tinggi selama berlangsungnya Asian Games dan Asian Para Games tetap terawat, terpelihara dan tersaji baik, menuju kontestasi politik 2019 tersebut.
Apa yang sudah kita capai pada tahun 2018 ini, khususnya pencapaian luar biasa di Asian Games dan Asian Para Games, mestinya menjadi momentum yang penting bagi rakyat Indonesia menjelang Pemilu 2019.
Tak dapat dihindari, situasi politik saat ini menjadi memanas karena setiap gerak-gerik masing-masing pasangan calon maupun para pendukungnya menjadi perhatian. Didukung dengan tekhnologi yang dengan mudahnya menyebarkan informasi melalui media-media sosial dan elektronik, yang menjadi pion jitu dalam penyebaran prestasi yang menguntungkan maupun fake news/hoax yang merugikan.
Tujaan Negara Indonesia adalah kesejahteraan yang merata dengan menghilangkan disparitas ekonomi. Semua warga negara berhak mendapatkan kehidupan yang layak dan sejahtera.
Pemerintah saat ini telah berupaya mendorong pembenahan infrastruktur di daerah-daerah yang semasa lalu masih terlupakan, dan hal itu menjadi pembuka untuk meneruskan pembangunan demi membangun kesejahteraan yang merata di seluruh wilayah Indonesia.
Bangsa Indonesia memang harus memacu diri untuk lebih mandiri agar kuat secara pondasi. Berbagai sektor pertanian yang dapat menutupi kebutuhan dalam negeri, dan diikuti dengan peningkatan SDM yang terampil dalam mengembangkan berbagai inovasi dan tekhnologi yang diyakini akan dapat memperkuat perekonomian.
Di sisi lain, terjadinya bencana alam yang yang melanda beberapa wilayah di Indonesia juga patut diberikan prioritas perhatian yang khusus oleh pemerintah saat ini. Bantuan pokok untuk para korban, rekonstruksi kota yang kini tidak dapat “ditinggali” dan permasalahan lainnya yang harus segera dicarikan penyelesaiannya.
Fenomena hoax yang mengiringi jalannya politik jelang pemilu juga menjadi momok masalah yang menguras energi masyarakat. Gerak-gerik, tingkah laku, dan perkataan seorang publik figur dipandang sebagai cerminan dari figur “kubu-nya”.
Para pendukung mencaci-maki pendukung lainnya, menyebarkan berita-berita yang tidak yakin kebenarannya. Jika dulu rakyat lelah dengan perseturuan para elite, yang terjadi kini kebalikannya. Elite mulai lelah dengan perseteruanrakyatnya.