Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Rektor Impor, Perlukah?

Pemerintah menegaskan akan melakukan pengembangan sumberdaya insani (SDI) sebagai prioritas pembangunan dalam lima tahun kedepan.

Rektor Impor, Perlukah?
Ist/Tribunnews.com
Prof. Dr. Yonny Koesmaryono, MS. 

Perguruan tinggi di Indonesia, pada kenyataannya masih dituntut sebagai institusi pendidikan yang harus menjaga kekhasan budaya ilmu pengetahuan Indonesia dan memiliki wawasan kebangsaan serta nasionalisme yang kokoh, sehingga perlu dipimpin oleh warga negara Indonesia.

Secara umum syarat menjadi pemimpin perguruan tinggi tentu memiliki pengetahuan manajerial pendidikan tinggi dan memiliki visi serta misi yang jelas bagaimana perguruan tinggi tersebut dapat menghasilkan lulusan terbaik untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, menghasilkan lulusan yang dapat menciptakan pekerjaan baru serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Oleh karena itu seluruh perguruan tinggi besar di Indonesia di pimpin oleh Rektor yang dipilih oleh civitas akademika internal perguruan tinggi.

Hal ini karena memang dasar hukum atau statuta perguruan tinggi dalam syarat pemilihan Rektor mengacu kepada keyakinan bahwa disetiap perguruan tinggi terdapat dosen atau tenaga pendidik terbaik dengan kemampuan manajerial untuk menjadi nakhoda perguruan tinggi.

Pertimbangan teknis jika ada civitas akademika internal atau dalam negeri yang mampu mengapa harus memperkerjakan tenaga kerja asing yang perlu bayaran jauh lebih mahal dengan potensi ketidakpahaman atas berbagai permasalahah internal perguruan tinggi di Indonesia.

Oleh karena itu, jika kebijakan mendorong peluang masuknya tenaga asing sebagai pimpinan perguruan tinggi, maka selain syarat memiliki pengalaman dan tracks record yang baik, juga harus ditunjang kemampuan untuk memahami dan memecahkan berbagai permasalahan teknis yang berasal dari internal perguruan tinggi.

Siapapun yang memimpin perguruan tinggi harus dapat memahami budaya iptek dan budaya lokal Indonesia, mampu membangun infrastruktur akademik yang kondusif untuk proses pembelajaran, dan penelitian sehingga menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagimasyarakat.

Perangkingan perguruan tinggi yang menunjukkan posisi kualitas dan daya saing. Harusnya dianggap hanyalah resultante dari semua pengelolaan sumberdaya perguruan tinggi.

Dengan demikian, perangkingan mestinya bukan dijadikan tujuan utama, tetapi sebagai konsekuensi logis dari baiknya tata kelola perguruan tinggi atau sebagai outcome dari suasana atmosfer akademik yang kondusif dan kredibel.

Jadi, sudah perlukah Indonesia Rektor impor?

Mari kita merenung sejenak.

* Penulis: Guru Besar Institut Pertanian (IPB) Bogor.

Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas