Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Mari Kita Perkuat Jiwa Kebangsaan dan Nasionalisme Kikis Habis Radikalisme kata Emrus Sihombing

91 tahun lalu, para pemuda Indonesia telah berikrar dan bersumpah untuk menjadi satu yaitu Indonesia.

Mari Kita Perkuat Jiwa Kebangsaan dan Nasionalisme Kikis Habis Radikalisme kata Emrus Sihombing
Tribunnews.com/Reza Deni
Emrus Sihombing 

Mereka menganggap dirinya paling benar, paling suci dari orang lain. Mereka bahkan tak segan menghakimi orang lain yang tidak seiman dengan dia.

“Saya menganggap perilaku radikalisme ini tidak tempatnya di Indonesia. Apalagi negara kita berdiri dengan merujuk pada Sumpah Pemuda, Pancasila, UUD 45, dan konstitusi kita yang lain,” tukas Emrus.

Untuk itu ia menyarankan kepada pemerintah agar sosialisasi kebangsaan terus diberikan kepada masyarakat dari desa sampai tingkat nasional.

Seperti di setiap kegiatan atau dialog atau apa saja di desa, juga dilakukan dialog kebangsaan dan itu harus dilakukan terus menerus.

“Pembangunan suatu negara harus dimulai dari masyarakat kecil yaitu desa. Kita harus jemput bola untuk memperkuat kebangsaan dan nasionalisme. Apalagi gangguan intoleransi, radikalisme, dan terorisme sangat nyata di depan kita,” imbuhnya.

Hal itu pula yang mendasari Presiden Joko Widodo beberapa kali menekankan masalah pemberantasan radikalisme ini kepada para menterinya.

Itu artinya, radikalisme itu masalah yang sangat serius yang menjadi ancaman keutuhan bangsa. Karena itu, seluruh bangsa Indonesia juga harus extra ordinary (luar biasa) dalam melakukan upaya pemberantasan radikalisme.

Seluruh juga masyarakat harus mengambil peranan penting untuk membangun sesuatu yang positif untuk bangsa dan negara. Ia khawatir bila rasa nasionalisme dan penguatan makna Sumpah Pemuda tidak melekat, resikonya terlalu berat buat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Jangan kita seperti Uni Soviet atau Yugoslavia. Buat apa pembangunan kalau kemudian terjadi perpecahan,” tutur Dosen Pascasarjana Universitas Pelita Harapan ini.

Ia juga tidak sependapat dengan klaim beberapa pihak yang mengatakan radikalisme itu dari satu kelompok kepercayaan tertentu. Menurutnya, radikalisme juga bisa berasal dari kelompok kepercayaan yang lain.

Halaman
123
Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas