Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

'Hegemoni Baru Perempuan Indonesia'

Beberapa puluh tahun lalu dalam catatan tulisan seorang antropolog mengenai sikap ambigu perempuan dalam mitos, menyebutkan mitos perempuan dari beber

OLEH: Patricia Leila Roose

Beberapa puluh tahun lalu dalam catatan tulisan seorang antropolog mengenai sikap ambigu perempuan dalam mitos, menyebutkan mitos perempuan dari beberapa negara.

Diantaranya:

1.India: " kalau anda mempercayai wanita maka anda akan berjalan diatas rawa-rawa yang penuh tahi kambing.
2. Albania : "ada dua yang sulit dipimpin, keledai dan wanita"
3. Jerman: wanita ibarat sepatu, kalau terlalu lama dipakai akan menjadi sandal.
4. Jawa : perempuan awan dadi teklek bengi dadi lemek

Dari beberapa catatan tentang mitos perempuan yang ada di beberapa negara tersebut, ada gambaran kuat bahwa dalam relasi sosial atau gender menggambarkan perempuan sebagai obyek atau sub dari kultur patriarkhi yang menempatkan perempuan sebagai obyek semata.

Kehadiran dan kelahiran pemikiran Kartini minimal memulai mengajak perempuan, khususnya Indonesia untuk mencoba menatap dan merefleksikan posisi dirinya di dalam kancah pergaulan sosial.

Ide-ide tersebut menginspirasi banyak kalangan dan kelompok perempuan di Indonesia untuk bangkit dan menyatakan diri di berbagai macam bentuk dan aksinya.

Hasil-hasil dari gerakan ini bisa kita lihat dengan lahirnya organisasi - organisasi perempuan yang berjuang untuk melakukan pembebasan kaumnya apapun aliran pemikiran yang dianutnya.

Sedari awal kemerdekaan dan seterusnya mulai menampakkan geliat untuk perjuangan pada posisi kesetaraan.

Akan tetapi justru pada saat gerakan perempuan jaman sekarang yang melahirkan banyak tokoh dengan sumber- sumber bacaan, sarana dan prasarana pelatihan yang cukup meluas justru terjadi peran yang surut akibat tergerusnya ide-ide kemandirian perempuan oleh trend budaya mode yang sangat dahsyat mengelabui dan menjinakkan penalaran serta rasa untuk menjadi perempuan yang maju, "dengan segala trend busana, rambut, hidung, bibir, tubuh langsing, pipi tirus, kulit putih dsb, untuk memperkuat posisi diri sebagai perempuan maju tersebut.

Ini bukanlah hal yang sepele tetapi harus dicermati dan dijawab dengan gerakan baru, agar tidak terjebak dalam "hegemoni baru yang mungkin lebih dahsyat dibanding patriakhi itu sendiri.

Apakah berkepribadian di dalam kebudayaan itu termasuk kemandirian dalam menampilkan diri atau sekedar menjadi agen mode atau sekedar menjadi agen atas nama agama padahal dibalik itu semua adalah rencana besar untuk menciptakan keuntungan bagi kelompok-kelompok bisnis tertentu.

Inilah tugas dan tantangan perempuan Indonesia di masa kini dan masa depan untuk berani berefleksi secara kritis dengan memformat gagasan dan gerakan baru agar terlepas dari hegemoni-hegemoni untuk melahirkan format baru kepribadian wanita Indonesia yang lebih merdeka dan mandiri.

*Patricia Leila Roose, SH., MH praktisi Hukum, Alumni Magister Hukum Universitas Bung Karno.

Patricia Leila Roose. SH, MH
Patricia Leila Roose. SH, MH (dok pribadi)
Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas