Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Yusuf Chudlori, Idola Generasi Milenial NU

Sebelum menjadi pewaris dan pengasuh API 2011, Gus Yusuf menempuh pendidikan agama di Pesantren Lirboyo Kediri (1985-1994).

Gus Yusuf Chudlori, Idola Generasi Milenial NU
Tribun Jateng/Rifqi Gozali
Gus Yusuf Chudlori 

Gus Yusuf Chudlori, Idola Generasi Milenial NU

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Gus Yusuf Chudlori nama lengkapnya KH. Muhammad Yusuf Chudlori. Beliau pengasuh Pondok Pesantren API (Asrama Perguruan Islam), Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Di pesantren inilah, mantan presiden ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menempuh pendidikan agamanya.

Pria kelahiran 3 Juli 1973 ini seorang budayawan dan seniman, yang telah melanglang buana mencari ilmu pengetahuan. Sejak KH. Chudlori, Pendiri API, wafat maka Gus Yusuf ini diasuh oleh kakak kandungnya, KH. Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur). Di kemudian hari, tahun 2011, Gus Yusuf mewarisi kepemimpinan Mbah Dur ini.

Sebelum menjadi pewaris dan pengasuh API 2011, Gus Yusuf menempuh pendidikan agama di Pesantren Lirboyo Kediri (1985-1994). Selepas itu melanjutkan pengembaraan intelektual ke Pondok Pesantren Salafiyah Kedung Banteng, Purwokerto dan Pesantren Salafiyah Bulus, Kebumen, hingga kisaran tahun 1998. Pada masa-masa inilah Mbah Dur menggembleng Gus Yusuf terlibat aktif mengawal lahirnya era reformasi.

Keterlibatannya dalam masa-masa paling menentukan dalam babakan sejarah republik ini, menjadi alasan Gus Yusuf layak memimpin Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) periode 1999-2007. Tahun 2008, ketika PKB dirundung perpecahan antara kubu Gus Dur dan kubu Cak Imin, Gus Yusuf mulai dipercaya memimpin Ketua DPW PKB Jawa Tengah. Sempat kehilangan posisi struktural tersebut, tapi 2013 kembali menjabat kedudukan sebagai ketua itu.

Api sejarah yang dimainkan Gus Yusuf Chudlori tidak saja berkobar di bidang politik, ia juga aktif dalam bidang kesenian dan kebudayaan. Bersama seorang seniman besar, Susanto Mendut, beliau mengembangkan Komunitas Lima Gunung. Tahun 2019, Kompas menurunkan artikel yang menjelaskan kegiatan komunitas ini sebagai komunitas kesenian yang hidup bersama keringat para petani.

Para petani jagung, cabai, gubis, dan buncis konsisten urunan untuk membiayai kegiatan kesenian mereka, tanpa memikirkan siapa yang menjadi penontonnya, tidak punya niat mencari donatur, dan sepenuhnya ini kesenian rakyat yang mustahil dikapitalisasi oleh kelompok borjuis. Bersama Komunitas Lima Gunung (KLM) yang berbasis di Jawa Tengah, spirit Ahlus Sunnah wal Jamaah betul-betul merakyat.

Sepak terjang lainnya juga bisa dilihat di bidang olahraga. Tahun 2011, manajemen sepakbola PPSM Magelang sempat kewalahan karena tidak lagi mendapat suntikan dana APBD. Akhirnya, PT Magelang Soccer Academy (MSA) ambil alih. Nah, di dalam komposisi ofisial klub, Posisi CEO dipegang oleh kiai kondang Muhammad Yusuf Chudlori atau yang dekat disapa Gus Yusuf ini.

Kebersamaan dengan rakyat melalui kesenian dan keterlibatan aktif memimpin partai politik bukan lantas menyita kesibukan Gus Yusuf Chudlori dengan literasi turats atau kitab kuning. Zamakhsyari Dhofier (1982), Martin Van Bruinessen (1995), Affandi Mochtar (2009), dan para peneliti lainnya sudah membuat atribut bahwa turats tidak bisa lepas dari tradisi pesantren. Ini pula alasan Gus Yusuf tidak bisa lepas dari pengajian-pengajian yang aplikatif untuk keperluan harian masyarakatnya.

Misalnya saja, tokoh sekaliber Gus Yusuf yang malang melintang di dunia politik dan kesenian rakyat masih saja bersentuhan dengan kitab kecil dan tipis seperti Ayyuhal Walad karya Imam al-Ghazali. Idealnya, kiai-kiai besar selalu menyuguhkan kitab-kitab berat, tetapi tidak dengan Gus yang satu ini. Kajian fikih-fikih sederhana, tentang ibadah, muamalat, dan akhlak yang aplikatif menjadi perhatian utamanya. Padahal beliau alumni Institute Training for Development, Massachusetts, Amerika Serikat.

Pengabdian masyarakat yang menjadi “suluk” intelektualitas beliau membuat Gus Yusuf Chudlori ini tidak mau berhenti untuk padam. Ibadah sosialnya terus berkobar, dan hal itu semakin terlihat dalam keaktifannya dalam Komunitas Gerakan Anti Narkoba dan Zat Aditif. Bersama orang-orang yang peduli pada masa depan generasi muda, seorang Gus yang punya karya ilmiah berjudul “Menapak Hidup Baru: Doa-doa Keseharian, Surabaya: Khalista, 2012”, “Fiqih Interaktif, Bandung: Marja, 2013”, berjuang memberantas penggunaan narkoba.

Sebagai dai muda NU yang patut diandalkan di era digital ini, Gus Yusuf Chudlori dapat dikatakan melek teknologi. Ceramah-ceramah agamanya disiarkan melalui berbagai media sosial seperti facebook, instagram, dan youtube. Bahkan, beliau memperjuangkan nilai-nilai pesantren agar dikenal publik melalui stasiun radionya sendiri, Fast FM. Dan yang paling membanggakan dari diri beliau adalah sifatnya yang “low-profile”, rendah hati dengan segala prestasi yang dicapai.

Pada suatu hari, komunitas penulis Jogja, seperti Gusdurian Jogja dan komunitas Mojok.com melakukan sebuah wawancara langsung. Gus Yusuf berkata, “masyarakat tahunya saya pengasuh, padahal saya buka pengasuh. Yang namanya pengasuh itu siam-malam menjaga pesantren. Lah, saya tiap hari keluyuran,” (Mojok.co, 25/5/2019). Suatu pernyataan yang menunjukkan kerendahan hati, dan ketidaksombongan dengan segala prestasi.

Tidak berlebihan sekiranya penulis menyebut Gus Yusuf ini sebagai “api sejarah”, yang terus berkobar membakar semangat generasi muda warga Nahdliyyin lainnya. Kedekatan penulis dengan beliau sudah sejak sama-sama mondok di pesantren Lirboyo, Kediri. Sejak masa muda memang sudah menginspirasi banyak kawan. Tuhan kembali mempertemukan penulis dengan Gus Yusuf di jajaran pengurus Rabithah Ma'ahid Islamiah (RMI), sama-sama sebagai Wakil Ketua Periode 2010-2015.

Penulis bersaksi, ide-ide visioner dan praktis dari beliau memang banyak menginspirasi para santri dan anak-anak muda milenial NU; tidak saja untuk menekuni turats atau kitab kuning secara lebih serius, tetapi juga untuk terjun ke dalam pengabdian sosial, politik kebangsaan maupun politik praktis, dan yang terpenting kesenian dan kebudayaan sebagai bagian dari tugas pokok pondok pesantren. Wallahu a’lam bis shawab.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.



Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas