Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Kinerja Menteri Jokowi

Menunggu Godot "Reshuffle" Kabinet

Sebagai sebuah ungkapan umum, menunggu Godot kemudian diartikan sebagai menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.

Menunggu Godot
Ist/Tribunnews.com
Drs H Sumaryoto Padmodiningrat MM 

Yang berasal dari parpol menginduk ke agenda parpolnya. Sebut saja Menteri Edhy Prabowo yang ngotot mengekspor benih lobster, suatu hal yang melawan akal sehat di samping merugikan perekonomian Indonesia dalam jangka panjang.

Ternyata, elite-elite parpolnya ada di balik nama-nama perusahaan eksportir benur atau benih lobster.

Yang dari kalangan milenial terikat dengan bisnis "startup" atau usaha rintisannya. Contohnya, Mendikbud Nadiem Makarim.

Yang dari kalangan independen atau non-parpol terjebak "yes man" dan "ABS" (Asal Bapak Senang). Mereka cenderung "ngathok" atau cari muka, tanpa keahlian yang memadai. Contohnya, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki.

Selagi Jokowi masih terjebak politik etis, jangan berharap kinerja kabinet akan membaik. Karena yang ada adalah rasa "ewuh pakewuh" atau sungkan, seperti terhadap Menkes Terawan.

Ditambah dengan peran Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin yang "antara ada dan tiada", maka makin sempurnalah keterpurukan Kabinet Indonesia Maju. Lalu, kapan ada '"reshuffle"?

Berharap ada perombakan kabinet ibarat menunggu Godot.
Dikutip dari sebuah sumber, istilah “menunggu Godot” berasal dari judul (naskah) drama dua babak karya Samuel Beckett, yang pentas perdananya digelar di Paris, Perancis, tahun 1953.

Mahakarya berupa drama absurd yang hanya menampilkan lima aktor ini berkisah tentang Estragon dan Vladimir yang sedang menantikan kedatangan Godot, sosok yang mewakili gagasan sentral yang notabene justru tidak pernah muncul sepanjang cerita.

Sebagai sebuah ungkapan umum, menunggu Godot kemudian diartikan sebagai menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.

Secara konotatif, ini bisa berarti sebuah kesia-siaan atau bisa juga ketidakmampuan (yang keterlaluan) dalam membaca situasi atau gelagat. Dengan kata lain: sebuah penantian konyol.

* Dr H Sumaryoto Padmodiningrat MM:Mantan Anggota DPR RI.

Ikuti kami di
Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas