Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Politik Dinasti vs Demokrasi

Pilkada serentak yang dilaksanakan tahun 2020 disambut antusias oleh partai - partai dan kelompok yang berkepentingan, tapi ditanggapi dengan sikap di

Politik Dinasti vs Demokrasi
net
Ilustrasi politik dinasti

Oleh : Patricia Leila Roose

Pilkada Serentak yang dilaksanakan tahun 2020 disambut antusias oleh partai - partai dan kelompok yang berkepentingan, tapi ditanggapi dengan sikap dingin oleh para calon pemilih.

Akan tetapi setiap perhelatan politik dimananpun dan jaman kapanpun, pasti sisi hiruk pikuknya jauh lebih menonjol daripada substansi dan tujuan apa yang mau dicapai.

Perhelatan kita ini yang kebetulan bersamaan dengan wabah corona membawa persoalan tersendiri untuk penyelenggaraan pilkada yang lebih ideal. Beberapa lembaga survey sudah mengumumkan tingkat partisipasi yang sangat rendah ( dibawah angka 50% ) pada pilkada kali ini.

Tingkat kehadiran yang diprediksi rendah tersebut tidak lepas dari ketakutan para pemilih atas keselamatan dirinya dari wabah corona.

Muncullah perdebatan pilkada ditunda setelah corona berlalu atau tetap dilaksanakan tepat waktu sesuai jadwal, dengan mentaati protokol kesehatan dengan penyesuaian beberapa aturannya.

Pengumpulan massa yang umumnya menjadi tradisi dari hiruk pikuk politik kita ditiadakan, meskipun pelanggaran terhadap aturan pengumpulan massa tersebut masih terjadi di beberapa daerah.

Disamping isu seputar corona muncul isu lain yang sangat kuat tentang politik dinasti yang mewarnai perdebatan publik. Ini tidak lepas dari munculnya calon- calon kepala daerah yang merupakan keluarga elit politik tetapi disangsikan kemampuan dan kelayakannya oleh publik. Meskipun mereka mendapatkan rekomendasi dari partai - partai pendukungnya.

Munculnya anak Pramono Anung yang masih sangat muda sebagai calon tunggal bupati Kabupaten Kediri, menantu dan anak presiden Joko Widodo yang menjadi calon walikota, keponakan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon bupati di Kabupaten Pacitan dengan slogannya yang terkenal "Indrata Nur Bayuaji, keponakan SBY".

Ada juga calon bupati yang merupakan anak atau istri bupati sebelumnya ikut mewarnai percaturan pilkada kali ini.
Dari sinilah kiranya muncul perdebatan positifkah, negatifkah atau biasa - biasa saja politik dinasti itu.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas