Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Benarkah Populisme Islam Berbahaya?

Gus Yaqut dan Fadli Zon sama-sama populis dan sama-sama politikus yang populis di mata para pemgikutnya.

Benarkah Populisme Islam Berbahaya?
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon 

Benarkah Populisme Islam Berbahaya?

Oleh: KH. Imam Jazuli Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Polemik Profesor Endang Turmudzi (mantan Sekjen PBNU 2004-2009) dan Menteri Agama Gus Yaqut soal populisme Islam, menarik bagi warga Nahdliyin.

Background struktural bapak Endang sebagai peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Gus Yaqut sebagai Menag, turut serta membentuk sudut pandang keduanya yang berbeda.

Sebelum Fadli Zon, politikus senior Partai Gerindra, ikut campur mengkritik bahkan menantang debat Menag, sudut pandang profesor Endang yang kritis terhadap Menag belum layak diberi kredit poin.

Efek domino pandangan netral sang profesor menjadi bermuatan politis sejak Fadli Zon datang. Walaupun Fadli Zon dan Endang Turmudzi berbeda tujuan, tetapi keduanya satu arah. Inilah alasan pentingnya menawarkan pemikiran "populisme yang ramah".

Fadli Zon dan Partai Gerindra sah-sah saja mengatakan populisme itu tidak berbahaya, termasuk populisme Islam. Selagi ada satu tokoh politisi atau partai bermain retorika bahasa atas nama membela kepentingan rakyat, maka itu sudah cukup disebut populisme politik.

Apalagi, bendera agama Islam dibawa-bawa, maka sudah cukup memenuhi syarat sebagai gerakan populisme politik Islam. Namun, masalahnya bukan di situ. Bagaimana bila ada politisi lain dan partai lain yang juga membawa nama agama Islam dalam membela kepentingan rakyat?

Katakanlah Fadli Zon dan KH. Yaqut Cholil Qoumas sama-sama membela massanya masing-masing. Yaitu sejumlah massa "yang-dibayangkan" oleh mereka berdua. Jika mau dikuantifikasi, bisa lihat perolehan Pilpres 2019. Nyatanya, secara kuantitas, Fadli dan Yaqut ada di dua gerbong berbeda secara jumlah massa pendukung.

Artinya, Fadli dan Yaqut sama-sama politisi populis. Juga sama-sama populis Islam. Bahkan, dalam urusan bicara agama, otoritas Menag jauh lebih otoritatif dibanding Fadli. Lantas, jika ada dua tokoh yang sama-sama populis, mana yang layak jadi panutan dan kebenaran?

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas