Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Berharap Kemenag Revisi Regulasi, Jangan Persulit Pelajar ke Al Azhar Mesir

Belakangan ada kesulitan dirasakan para pelajar mereka berharap Kemenag Revisi Regulasi, Jangan Persulit Pelajar ke Al Azhar Mesir.

Berharap Kemenag Revisi Regulasi, Jangan Persulit Pelajar ke Al Azhar Mesir
ISTIMEWA
205 Mahasiswa Indonesia raih gelar sarjana dari Universitas Al Azhar, Licence (Lc), Magister dan Doktor. 

Berharap Kemenag Revisi Regulasi, Jangan Persulit Pelajar ke Al Azhar Mesir

H.Jamil Abdul Latief, Lc. M.E*

TRIBUNNEWS.COM - Islam di Nusantara masyhur sebagai Islam Wasathiyah, Moderat. Membangun citra Islam yang penuh cinta kasih dan perdamaian tidak lepas dari peran alumni pendidikan Al-Azhar, Mesir. Kontribusi Al-Azhar sendiri untuk menyebarkan paham Wasathiyah telah lama dikenal di seantero negeri. Karenanya, tidak ada alasan bagi pemerintah Indonesia menjadi batu sandungan bagi calon mahasiswa yang ingin belajar ke al-Azhar.

Tahun 2020 diakui sebagai tahun yang berat. Di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan pengumuman yang memberikan pukulan telak. Seleksi calon mahasiswa Al-Azhar dari Indonesia ditiadakan sampai pergantian tahun 2021, baik untuk jalur beasiswa maupun mandiri. Sementara Kemenag satu-satunya otoritas yang berwenang mengeluarkan rekomendasi.

KH. Imam Jazuli cukup kritis mengomentari regulasi Kemenag yang 'merugikan' itu, seperti dalam tulisannya "Berharap Gus Yaqut, Perbaiki Carut-Marut Kemenag dan Menghentikan Regenerasi Kader Radikalis," (TribunNews, 17/1/2020). Secara umum, menurutnya, ada kebijakan politis yang kurang matang disahkan oleh mantan menteri agama sebelumnya, dimulai sejak Surya Darma Ali hingga eta Fachrul Razi. Sarannya, regulasi merugikan itu harus dievaluasi pada masa-masa mendatang.

Setidaknya ada tiga alasan penulis bersepakat dengan ide tersebut. Pertama, regulasi yang Menag Fachrul Razi kala itu dibuat oleh orang yang kurang berkapasitas. Backgroundnya yang militer membuatnya tidak mengerti situasi konkrit di lapangan, lebih-lebih di Al-Azhar, Mesir. Menunda proses seleksi sampai waktu tidak ditentukan dengan alasan pandemi adalah keputusan yang tidak bijak. Seleksi adalah persoalan teknis, dan karenya masih mungkin diselenggarakan secara daring, online. Penulis berharap, semoga alasan mendasarnya bukan karena manajemen dan SDM Kemenag tidak siap menyelenggarakan seleksi online.

Kedua, penulis sepakat dengan KH. Imam Jazuli bila mengendus adanya aroma ketidakberesan dalam regulasi Kemenag, khususnya pengetatan syarat kelulusan. Kefasihan berbicara dalam bahasa Arab dan kecakapan menghafal ayat dan surat al-Quran bukan ranah strategis Kemenag. It’s okey dalam konteks seleksi jalur beasiswa, tetapi problematik dalam konteks jalur mandiri.

Perkembangan mutakhir perlu diinformasikan bahwa Al-Azhar Asy-Syarif telah menyelenggarakan program pendidikan bahasa Arab dan al-Quran. Salah satunya dikenal sebagai Daurah Ta'lim al-Lughah al-Arabiah li Ghair al-Nathiqin Biha sejak awal 2019. Program ini memberikan bekal persiapan dan skill berbahasa Arab bagi mahasiswa dari non-Arab. Program ini dijalankan bersama oleh Madinah al-Bu'uts al-Islamiah, al-Idarah al-Markaziah li Syu-un al-Thullab al-Wafidin, dan Majma al-Buhuts al-Islamiah.

Selain program bahasa Arab, Madinah al-Bu'utsh al-Islamiah juga bekerjasama dengan Markaz Tathwir Ta'lim al-Thullab al-Wafidin dalam menjalankan program Daurah I'dad Mu'allimil Qur'an al-Karim li Ghairi al-Nathiqin bi al-Lughah al-Arabiah. Program ini mengarahkan para pelajar dan pengajar al-Quran agar mampu memahami cara menghafal dan cara menjelaskan ayat-ayat al-Quran.

Dengan kata lain, tanggung jawab dalam persiapan bahasa Arab dan hafalan al-Quran telah diambil alih oleh Al-Azhar, dan bukan ranah Kemenag, terlebih dalam konteks jalur mandiri. Siapapun berhak belajar di Al-Azhar, sebab Al-Azhar sendiri memberi solusi untuk seleksi dan persiapan. Perkembangan mutakhir di Al-Azhar inilah yang menjadi alasan ketiga penulis bersepakat dengan gagasan KH. Imam Jazuli tentang pembukaan peluang seluas-luasnya dan penambahan jumlah sebanyak-banyaknya kuota jalur mandiri bagi calon mahsiswa al-Azhar dari Indonesia. Kecuali jika kemenag memiliki misi untuk menghambat pendidikan Islam, sungguh sangat disayangkan jika kemenag menghambat siswa yang akan studi ke al-Azhar dengan biaya Mandiri, kemenag mestinya membantu syiar islam, bukan malah menghambat dan penghalangi. Kalau kemenag selama ini tidak mampu memberi beasiswa publik tidak keberatan, tapi jangan pula menghalang yang biaya mandiri.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas