Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Aisha Wedding, Apanya yang Bikin Pening?

Dalam masalah ini kita perlu tinjau tiga isu: Aisha Wedding (AW) sebagai website, AW sebagai perusahaan, dan pernikahan usia anak-anak.

Aisha Wedding, Apanya yang Bikin Pening?
Via Kompas TV
Spanduk ajakan menikah muda aisha weddings (sumber: fb aisha weddings) 

Oleh Reza Indragiri Amriel *)

DALAM beberapa hari ini, sebuah EO pernikahan yatu Aisha Wedding (AW) menjadi pembicaraan masyarakat.

Dalam masalah ini kita perlu tinjau tiga isu: Aisha Wedding (AW) sebagai website, AW sebagai perusahaan, dan pernikahan usia anak-anak.

1) Apakah EO bernama Aisha Wedding itu memang benar-benar ada? Atau cuma website-nya saja, dan bisnis yang sebenarnya tidak ada? Kalau ternyata AW cuma nama website tanpa sungguh-sungguh ada perusahaannya, maka perlu diusut apa motif pembuat situs tersebut.

2) Anggaplah benar-benar ada EO bernama AW. Saat dilaporkan ke polisi, apa persoalan pidananya? Kalaulah dianggap caption pada situs AW tersebut dianggap bertentangan dengan kampanye pencegahan pernikahan anak-anak, maka apakah perbuatan AW tersebut bisa dijatuhi sanksi pidana?

Yang terpenting sekarang, karena KPAI dikabarkan sudah melapor ke Polri, silakan lembaga negara tersebut kasih penjelasan: apa yang dilaporkan dan apa UU yang terindikasi dilanggar.

Benang yang perlu diurai yang barangkali terkait kasus ini:
- UU Perkawinan
- UU TPPO
- UU Perlindungan Anak:
A. Eksploitasi
B. Perdagangan anak
- Lainnya

3) Situs AW menyebut usia 12-21 tahun. Untuk pernikahan usia 12 sampai sebelum 19 tahun, memang 'bertentangan' dengan UU Perkawinan. Tapi jangan salah lho. UU yang sama membuka ruang bagi terjadinya perkawinan di bawah 19 tahun. Jadi, dalam gambaran ekstrim, pernikahan remaja 15 tahun adalah sah berdasarkan UU Perkawinan jika syaratnya terpenuhi. Dari poin ini saja tampaknya semakin goyah unsur pidana dalam AW.

Sisi lain. Kampanye penolakan pernikahan anak adalah baik adanya. Tapi saya sejak lama mempersoalkan ketidakhadiran negara dengan bobot setara untuk menaruh atensi dan menekan seks (termasuk di kalangan anak-anak) di luar pernikahan. Yang terkesan kuat sekarang justru seks di luar pernikahan adalah silakan saja asalkan konsensual (mau sama mau), tidak menularkan penyakit, dan tidak mengakibatkan kehamilan yang tidak dikehendaki. Dari tiga hal semacam itu berkumandanglah program kondomisasi, 'suami istri' tanpa ikatan pernikahan, dan propaganda perilaku seks sejenis.

Padahal, saya sangat yakin, jumlah anak yang melakukan seks di luar nikah amat sangat jauh lebih banyak daripada anak-anak yang menikah pada usia belia.

Seks di luar nikah ini pula yang menjadi salah satu penyebab pernikahan anak-anak. Sehingga, tidak tepat memandang pernikahan anak-anak sebagai masalah yang terisolasi dari masalah-masalah lain. Selama fenomena seks di luar nikah tidak menerima perhatian negara, lalu terjadi kehamilan juga di luar nikah, jangan harap kampanye mencegah pernikahan anak-anak akan mencapai sasarannya.

*) Reza Indragiri Amriel adalah Kabid Pemenuhan Hak Anak LPAI

Ikuti kami di
Editor: Hendra Gunawan
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas