Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Catatan Kritis Atas Trending Kemenag Rasa Komunis

trending tagar Menteri Agama (Menag) Rasa Komunis di media sosial seperti Twitter dan lainnya, aura negatif yang mengarah pada kebencian.

Catatan Kritis Atas Trending Kemenag Rasa Komunis
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon. 

Kemenag Rasa Komunis? Catatan untuk Kita Semua!

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Idhul Adha 1442 Hijriyah kali ini menjadi batu loncatan meningkatkan iman takwa kepada Allah SWT. Iman berarti percaya akan kemahaan Tuhan, dan takwa berarti takut melanggar syari'at-Nya. Salah satu perintah Allah adalah : "berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan bercerai-berai" (Ali Imron: 10).

Bercerai-berai merupakan larangan, yang wajib hukumnya dihindari bagaimana pun caranya. Jika mampu bersatu padu dan menghindari cerai-berai maka kita telah melaksanakan perintah wajib dari Allah yang lain, yaitu berpegang teguh pada prinsip persatuan; tali persaudaraan dan persahabatan. Ini juga wajib diperjuangkan.

Namun, melihat trending tagar Menteri Agama (Menag) Rasa Komunis di media sosial seperti Twitter dan lainnya, aura negatif yang mengarah pada kebencian, buruk sangka, kritik yang tidak ilmiah, menyeruak di ruang publik. Kekecewaan publik pada pemerintah membabi buta. Padahal hanya gara-gara meniadakan pelaksanaan shalat Idul Adha yang hukumnya adalah Sunnah. Mereka ingin amal Sunnah namun rela mengorbankan perintah wajib berupa menjaga nafs (hidup), persatuan, menjauhi su'u zhon (buruk sangka), kebencian, yang semua itu adalah penyebab kotornya hati nurani.

Selain itu, penyematan label komunis juga tidak tepat. Secara sederhana, komunisme adalah doktrin atau ajaran politik dan ekonomi yang bertujuan mengganti hal-hal private dengan kepemilikan publik. Sumber-sumber ekonomi seperti tambang, pabrik, dan sumberdaya alam masyarakat dikontrol demi tujuan komunal. Pengertian sederhana ini sama sekali tidak berkaitan dengan agama, apalagi pelarangan shalat Idul Adha.

Kementerian Agama telah berada pada jalur yang tepat dan benar, setidaknya membantu program pemerintah berupa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, melalui posisinya sebagai "pengarah bidang keagamaan". Perspektif ini penting dipahami. Jika tidak maka kritik publik jauh dari akal sehat dan rasionalitas. Bahkan, jika tidak, kritik netizens lebih tampak sebagai buzzers dari pada aspirasi demokrasi di ruang publik.

Kementerian Agama hanya bisa berbuat di ranah-ranah yang berhubungan dengan keagamaan, seperti penutupan pelaksanaan shalat Idul Adha ini, lebih-lebih karena varian Covid-19 bertambah dan tidak ada preseden sebelumnya. Karena Kemenag hanya bisa beroperasi di ranah keagamaan maka berbagai data "inkonsistensi" pemerintah dalam hal penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tidak dapat dilimpahkan pada Kemenag.

Tentu saja kita menyayangkan, setelah kebijakan politik pemerintah terkait PPKM ini berlangsung, tiba-tiba viral di media sosial ada sekian puluh Tenaga Kerja Asing (TKA) dari China masuk ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Elite politik yang memiliki "akal cerdas" tentu bisa mengelak, dengan alasan ini itu; pembatasan kegiatan masyarakat hanya Jawa-Bali, sehingga di luar dua pulau ini sah-sah saja.

Hal tersebut di atas hanya contoh kecil inkonsistensi pemerintah dalam PPKM. Masih banyak lagi contoh inkonsistensi pemerintah. Misalnya, masjid-masjid diatur sedemikian ketatnya namun tempat umum lain masih terbuka dengan bebasnya. Ini juga bagian dari inkonsistensi kebijakan politik pemerintah. Namun, urusan ekonomi, pariwisata, imigrasi, adalah di luar tanggung jawab Kemenag. Jadi, publik tidak bisa mengkait-kaitkan satu wilayah kerja kementerian/dinas dengan kementerian lain, dalam hal ini Kemenag.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas