Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Menelusuri Mistisisme Ajaran Sunan Kalijaga dalam Bait-bait Tembang Lingsir Wengi

Setiap tembang yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga memiliki makna dan misi penyebaran agama Islam di Tanah Jawa.

Menelusuri Mistisisme Ajaran Sunan Kalijaga dalam Bait-bait Tembang Lingsir Wengi
WARTA KOTA/WARTA KOTA/NUR ICHSAN
MASJID KALI PASIR - Masjid Kali Pasir, yang merupakan bangunan masjid tertua di Kota Tangerang yang didirikan oleh Tumenggung Pamit Wijaya pada tahun 1576, Selasa (1)20/4/2021). Keunikan masjid ini mempunyai 4 tiang penyangga dari kayu jati yang salah satunya merupakan pemberian dari Sunan Kalijaga, sedangkan cungkup atap masjid yang berlokasi di Kampung Kali Pasir, Jalan Masjid Rt 01/04 Kelurahan Sukasari ini diberikan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, yang secara kebetulan salah satu isterinya yaitu Ratu Siti Uria Negara di makamkan di lokasi ini. Salah satu daya tarik masjid yang lokasinya hanya 50 meter dari Kali Cisadsbe dan 100 meter dari Kelenteng Boen Tek Bio inI adanya makam keramat seorang ulama perempuan Nyai Ratu Hj Murtafiah, yang merupakan keponakan dari Dyeikh Nawawi Al Jawi Al Bantani, yang hingga kini masih diziarahi orang. Aktifitas ramadan di masjid ini tetap hidup sepanjang umur masjid tua ini. WARTA KOTA/NUR ICHSAN 

Liriknya juga mengandung cinta dan doa. Konon dibacakan pada malam hari karena kebiasaan masyarakat Jawa pada masa itu yang jarang tidur untuk shalat dan ibadah.

Miftah Firdaus Zein mengatakan, Lingsir Wengi merupakan salah satu lagu gending Jawa yang menggunakan tembang macapat yang terdiri dari 11 pakem.

Salah satunya adalah pakem durma yang dilantunkan dengan tempo yang pelan, masuk melalui perasaan yang lembut dan dengan pembawaannya yang menyayat hati pendengarnya.

Kini Kok Berbelok?

Lagu Lingsir Wengi yang sejatinya bermakna doa, kini malah berbelok dan dipersepsikan sebagai lagu pemanggil setan.

Misalnya, penggunaan lagu ini di film Kuntilanak yang rilis di tahun 2006. Film yang dibintangi Julie Estelle, Evan Sanders, dan Ratu Felisha merupakan karya Rizal Mantovani.

Dalam film tersebut lagu Lingsir Wengi dinyanyikan untuk memanggil setan. Film ini berhasil mengumpulkan lebih dari sejuta penonton hingga dibuat triloginya dan menarik jutaan lagi penonton.

Penggunaan lagu Lingsir Wengi pada film ini membuat lagu ini jaditerkesan mistis dan horor, jauh dari makna doa dan ibadah yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebelumnya.

Ada perbedaan lirik antara Lingsir Wengi dari film Kuntilanak 2006 dengan kidung Lingsir Wengi ciptaan Sunan Kalijaga.

Lirik lagu lingsir wengi pada film Kuntilanak 2006
Bahasa Jawa:

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet Bahasa Indonesia:

Menjelang malam bayangan mu mulai sirna
Jangan bangun dari tempat mu tidur/beranjak
Awas jangan sampai terlihat
Aku sedang dalam keadaan gusar
Jin dan setan telah ku utus
Jadilah apapun
namun jangan membawa maut

Lagu lingsir wengi juga dinyanyikan oleh mendiang Didi Kempot sang maestro campursari.

Penyanyi yang diberi julukan The Godfather of Broken Heart, merilis lagu lingsir wengi pada tahun 2016 dan dimuat dalam album Ketaman Asmoro.

Lingsir wengi yang dinyanyikan oleh sang maestro ini diciptakan oleh Sukap Jiman seorang penulis lagu paruh baya yang tinggal di Sukoharjo.

“Saya sebenarnya mempunyai 14 karya lagu, tapi yang paling terkenal ya Lingsir Wengi. Lagu itu saya buat pada tahun 1995 namun viralnya pada tahun 2000. Dulu lagunya dibawakan oleh beberapa penyanyi lokal seperti Wuryanti, Ani Suyanti, Agus Zakaria, Didi Kempot, Nurhana.”

Lagu lingsir wengi yang dibuatnya menceritakan seorang anak muda yang sedang jatuh cinta, lalu pada malam harinya, ia terngiang-ngiang oleh gadis pujaannya.

Ketika ditanya mengenai lagu yang sedang hangat diperbincangkan karena dianggap dapat digunakan untuk memanggil makhluk halus, Sukap membantahnya.

Dengan tegas ia menjelaskan jika lagu Lingsir Wengi “mistis” itu bukan darinya, namun lagu itu merupakan tembang Jawa yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga.

Lingsir wengi memiliki beberapa makna tergantung dari pandangan tiap orang dan perubahan zaman.

Kidung Lingsir wengi yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga bermakna doa, lagu Lingsir wengi yang dinyanyikan pada film kuntilanak pertama tahun 2006 berkesan mistik dan pemanggilan setan.

Sementara lagu yang dibuat oleh Sukap Jiman dan dinyanyikan oleh The Godfather of Broken Heart menceritakan seorang anak muda yang sedang jatuh cinta, lalu pada malam harinya, ia terngiang-ngiang oleh gadis pujaannya.

Maka dari itu diperlukan literasi kebudayaan yang baik untuk tetap menjaga identitas dan menjaga kearifan lokal dari zaman ke zaman.

World Economic Forum pada tahun 2015 menyepakati bahwa terdapat enam literasi dasar literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Literasi kebudayaan tercakup kedalam salah satu literasi dasar yang harus dimiliki setiap warga negara.

Literasi kebudayaan sendiri adalah literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.

Sehingga sangat penting penerapan literasi kebudayaan salah satunya untuk menyikapi persoalan lingsir wengi diatas.

Literasi kebudayaan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga pada saat itu adalah dengan tetap menjaga kearifan lokal atau budaya budaya lokal dengan menyisipkan dakwah dan digunakan sebagai sarana penyebaran agama islam.

Sunan Kalijaga mampu memodifikasi kebudayaan yang ada pada masyarakat Jawa pada masa itu dengan menyisipkan dakwah dan ajaran agama islam.

Sunan Kalijaga juga membuat budaya budaya baru yang sangat penuh dengan makna kehidupan dan ketuhanan seperti doa.

Sunan kalijaga mengajarkan nilai-nilai bahwa untuk mengingatkan dan mendidik bisa dilakukan dengan cara halus dan beradaptasi dengan keadaan masyarakat tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pengemban dakwah dan penyebar ajaran agama islam. Ini merupakan cara yang sangat stategis untuk mengajak masyarakat dalam saling mengingatkan pada kebaikan dan ibadah kepada Allah SWT.

Di sisi lain, Sukap Jiman membuat lirik lagu yang bisa jadi terinspirasi dari lingsir wengi ciptaan Sunan Kalijaga. Namun metodenya dimodifikasi kembali dari tembang ke lagu-lagu popular untuk zaman nya saat itu .

Di satu sisi itu merubah makna dari lingsir wengi ciptaan Sunan Kalijaga namun itu juga mampu mengingatkan kita tentang adanya lingsir wengi dari sebelumnya yaitu ciptaan Sunan Kalijaga.

Hal ini dilihat dari pernyataan Sukap Jiman yang mengetahui adanya tembang lingsir wengi ciptaan sunan kalijaga.

Lingsir wengi pada film kuntilanak pertaman tahun 2006 mungkin bisa menjadi penyebab perubahan makna lingsir wengi dari doa ke nuansa berbau mistis dan horor bahkan pemanggilan setan.

Namun sisi positifnya yaitu lingsir wengi akhirnya menjadi banyak dikenal oleh masyarakat luas.

Mungkin akan lebih baik jika pada film-film berikutnya dimunculkan kidung lingsir wengi yang sesuai dengan ciptaan Sunan Kalijaga baik itu dari sisi lirik maupun makna dan pembawaanya.

Hal ini juga bisa menjadi anti klimak dari lingsir wengi nuansa mistik dan horor ke lingsir wengi yang bermakna doa.

Sehingga masyarakat akan lebih megetahui dan memahami jati diri dari lingsir wengi sebenarnya yang dibuat oleh Sunan Kalijaga di masa lalu.

Jika kita mengambil secara positif, literasi kebudayaan sebenarnya sudah dilakukan oleh Sunan Kalijaga, Sukap Jiman dan Film kuntilanak namund dengan caranya masing-masing.

Yang perlu dilakukan adalah menampilkan identasi lainnya khususnya identitas awalnya sehingga kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia akan tersu abadi dan dikenal oleh masyarakat luas karena diperkenalkan secara terus menerus.

Meskipun ada sedikit modifikasi namun yang perlu ditekankan adalah untuk bisa menjaga kebudayaan dan menjaga identitas kebudayan sebelumnya dengan memperkenalkan dan memberikan pemahama kepada masyarakat.

Dede Gumilar
Dede Gumilar

*Penulis merupakan pustakawan di Perpustakaan Nasional 

Editor: Choirul Arifin
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas