Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Pesantren, Tradisi Kritik yang Lestari dan Kiai Imam Jazuli

Segala keberatan yang membuat masygul hati ulama Jawa Timur, penulis tidak temukan dalam hati dan pikiran ulama muda.

Editor: Husein Sanusi
Pesantren, Tradisi Kritik yang Lestari dan Kiai Imam Jazuli
Facebook Aguk Irawan
KH Aguk Irawan atau Gus Aguk. 

Pesantren, Tradisi Kritik yang Lestari dan Kiai Imam Jazuli

*Oleh : DR. KH. Aguk Irawan, MA

TRIBUNNEWS.COM - Dunia Pesantren tidak betul-betul tuntas diungkapkan, sebelum tradisi kritik dipahami sebagai bagian dari karakteristiknya. Memisahkan tradisi kritik dari pesantren bukan saja bertentangan dengan fakta sejarah, tetapi juga tidak sejalan dengan spirit Islam. Mujadalah, adu argumentasi, mendapatkan panggung suci dalam tradisi Islam. Para santri dan kiai yang sedang berdebat sejatinya sedang mengamalkan ajaran dan keyakinan agama mereka.

Baru-baru ini ada panggung debat yang hangat, cryptocurrency (mata uang kripto). Bermula dari keputusan akhir Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang menyebutnya sebagai perkara yang tidak cukup disebut komoditas dan karenanya tidak sah diperdagangkan. Ada banyak kendala dan keberatan bagi ulama Jawa Timur untuk menghalalkan uang kripto.

Segala keberatan yang membuat masygul hati ulama Jawa Timur, penulis tidak temukan dalam hati dan pikiran ulama muda lain, misalnya dari lembaga Bahtsul Masail Yogyakarta. Walaupun nyatanya ada sisa-sisa kemasygulan yang sama, misalnya dari ulama-ulama sepuh dari wilayah lain, termasuk Yogyakarta sendiri.

Berbagai kemasygulan tersebut bisa dipahami sebagai konsekuensi tradisi kritik yang dilestarikan dengan baik di lingkungan pesantren umumnya dan lingkungan Nahdliyyin khususnya. Tradisi kritik ini sudah sangat tua, sudah ada sejak lembaga pesantren pertama kali dibentuk, tepatnya pada era keemasan dakwah Islam di Nusantara. Anggota Walisongo faktanya tidak selalu seiya-sekata dalam memilih jalan dakwah masing-masing.

Sebagian waliyullah cenderung menggunakan pendekatan syariat, dan wali lain cenderung pendekatan seni budaya, bahkan wali lain lain menempuh jalur kekuasaan. Perdebatan di kalangan para wali bukan tidak sengit, bahkan diabadikan dalam satu kisah yang sangat heroik, dimana para wali sepakat menjatuhkan hukuman mati bagi anggota wali lainnya. Betapa sengit praktik kritik, adu argumen, mujadalah, kala itu.

Tradisi Kritik ini seakan naga yang baru bangun dari tidurnya. Tak lama setelah LBMNU Jawa Timur memutuskan keharaman penggunaan cryptocurrency, sebuah tulisan di Tribunnews oleh KH. Imam Jazuli (Kiai Imjaz) memancing polemik. Situasi semakin hangat karena tak lama paska keputusan LBM-NU DIY berseberangan dengan keputusan LBM-NU Jawa Timur, Kiai Imjaz memilih memihak pada Jogja daripada Jatim. Ini persoalan lain yang memancing kecurigaan lain.

Sebagai sesama alumni Al-Azhar, penulis memiliki ketertarikan pada tulisan Kiai Imjaz, dan mengamati secara cukup intens beberapa opininya yang terbit. Mulai topik-topiknya yang beragam, seperti kritik-kritik terhadap Gus Baha, Ustadz Adi Hidayat (UAH), LBP, Ustadz Abdul Somad (UAS), Menteri Pendidikan, NU Garis Lurus, PBNU, PKB, Kementerian Agama, komunitas Gusdurian, dll hingga keputusan LBM-NU Jawa Timur terkait uang kripto. Kiai Imjaz lebih tampak memilih untuk menjaga tradisi kritik yang mendarah daging di lingkungan pesantren tetap lestari. Ini tidak masalah, dan mengingatkan penulis pada Abu Jamil al-Hasan al-Ilmi (2012), dalam bukunya Manhaj Qiraah al-Turats al-Islami Baina Ta'shil al-Alamin wa Intihal al-Mubtilin. Ada banyak cara dan aliran dalam mengkritisi kitab kuning/turats Islam, bahkan yang sifatnya untuk menggugurkan.

Masalah yang sesungguhnya adalah hanya karena Kiai Imjaz terlalu menggebu-gebu dalam menulis, sehingga pilihan diksi dalam setiap tulisannya sangat emosional, dan itu menciptakan ruang yang kurang sehat, atau tepatnya gosip tidak enak di Jawa Timur, Walaupun dari sisi substansi penulis sepakat, Sebagai bagian dari komunitas pesantren, persoalan diksi dalam tulisan berkaitan dengan tradisi lain yang juga bagian dari darah daging santri, yaitu kesusastraan.

Halaman
12
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas