Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

One Word, One Peace, One Hope: Indonesia Emas

Belakangan banyak pakar menyatakan bahwa mereka bukan didalangi tetapi ditunggangi oleh mereka yang memang sengaja bikin rusuh

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Suut Amdani
zoom-in One Word, One Peace, One Hope: Indonesia Emas
Dok
XAVIER QUENTIN - Xavier Quentin Pranata adalah kolumnis dan penulis buku. Xavier mengemukakan pendapatnya tentang demo yang terjadi di berbagai daerah Indonesia. (Dok pribadi untuk Tribunnews.com) 

Oleh Xavier Quentin Pranata, kolumnis dan penulis buku. Lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 4 Juli 1960, dan telah menulis lebih dari 60 buku. Pendidikan terakhir S3 di Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia, Yogyakarta.

TRIBUNNEWS.COM - Satu kata. Hanya satu kata. Satu kata bisa mengubah keadaan dari teduh ke kisruh. 

Namun, satu kata yang lain, bahkan dari kata yang sama, bisa mengubah dari ricuh ke teduh.

Demo berhari-hari yang diakhiri dengan pawai damai mahasiswa menunjukkan hal itu.

Tolol

Hanya satu kata ini bisa membangkitkan amarah rakyat yang sudah terlanjur penat.

Apakah rakyat yang turun ke jalan untuk menuntut keadilan—diwakili mahasiswa dan buruh—menginginkan kerusuhan?

Tidak! Mereka ingin menyampaikan aspirasi dengan keteduhan.

Rekomendasi Untuk Anda

Budaya mepe di Jogja adalah contoh yang baik.

Dalam masyarakat Jawa, tindakan rakyat yang berjemur di depan keraton saat terik matahari seperti yang ditunjukkan di Daerah Istimewa Jogjakarta adalah cara menunjukkan ketidakpuasan terhadap keputusan atau kebijakan penguasa yang dianggap tidak tepat.

Mereka rela berjemur di bawah sinar matahari yang panas tetapi dengan hati yang penuh keteduhan.

“Words are potent weapons for all causes, good or bad,” ujar Manly Palmer Hall.

Baca juga: Ferry Irwandi Kritik Pemerintah yang Fokus Kejar Aktor Demo, Sesalkan Adanya Gas Air Mata di Kampus

Penulis, dosen, astrolog dan mistikus Amerika dengan ajarannya yang legendaris The Secret Teachings of All Ages ini sepola pikir dengan ulasan Inc Magazine yang saya rasa mengutip ucapan Yakobus: “Berhati-hatilah dalam berkata-kata. Lidah manusia adalah binatang buas yang hanya sedikit yang bisa menguasainya.”

Jika kata ‘tolol’ ditujukan kepada orang yang cerdas, bisa jadi orang yang cerdas dan bisa mengontrol kewarasan akan merespon dengan senyuman sambil berkata dalam hati, “Siapa sih yang lebih cerdas, lu atau gue?”

Namun, apa jadinya jika kata itu dilontarkan kepada orang yang sudah bekerja susah payah tetapi dibalas dengan sumpah serapah? 

Meskipun begitu, sebagian besar pendemo masih berpikir waras.

Belakangan banyak pakar yang menyatakan bahwa mereka bukan didalangi tetapi ditunggangi oleh mereka yang memang sengaja bikin rusuh untuk kepentingan mereka sendiri.

Apa kepentingannya? Ketimbang main ilmu cocokologi, mending berkata, “Kabur karena tertutup kabut tebal.”

Benarkah kabut itu tidak bisa disingkapkan? Tentu saja! Jejak digital dan alogoritma bisa mengarah ke orang atau kelompok tertentu.

Biarkan para pakar dan pemerintah yang punya segala peralatan dan pakarnya yang membongkarnya. Kemampuan ada, tinggal kemauan.

Satu keping

Di berbagai wilayah bendera merah putih—yang sakral—didampingi oleh bendera ‘One Piece’.

Mengapa bendera ‘bajak laut’ ini dikibarkan bersama sang saka merah putih?

Karena filosofi di baliknya.

One Piece sebenarnya bukan sekadar bendera melainkan harta karun yang dikumpulkan oleh Raja Bajak Laut Gol D. Roger dan ditinggalkan di pulau terakhir Laugh Tale di Grand Line.

Apakahkah harta karun itu begitu bernilai sehingga dicari dan diperebutkan, bahkan sampai menimbulkan konflik berkepanjangan?

Monkey D. Luffy dan kru Bajak Laut Topi Jeraminya berusaha begitu keras untuk memperoleh harta karun itu agar bisa menjadi Raja Bajak Laut berikutnya.

Sekali lagi haus kekuasaan—yang dibarengi keserakahan terhadap harta—bisa membutakan mata siapa saja, bahkan orang yang dianggap tulus sekalipun.

Wajah ‘tulus’ bahkan bisa dijadikan modus untuk memperoleh fulus.

Selain uang—istilah populernya UUD (Ujung Ujungnya Duit)—ujungnya hanya satu: rakus! Demo yang mengusung tikus berdasi sambil menenteng koper penuh fulus memang jenius.

Satu Harapan

Apa sih harapan rakya yang diwakili para pendemo? Keadilan!

Bagaimana mungkin Indonesia yang subur makmur rakyatnya justru tergusur dan terkubur?

Bukankah ungkapan ‘ayam mati di lumbung padi’ pas untuk menggambarkan istilah ini?

Mengapa bisa begini? Mengapa bisa begitu?

Tidak usah bertanya kepada Dora untuk menemukan petanya.

Gambar besarnya sudah terpampang di depan mata: pengelola yang tidak becus.

Itulah PR yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah.

Permintaan maaf yang tidak disertai tindakan konkret justru menimbulkan luka parah di atas luka lama.

Jika terus dibiarkan, percikan ketidakpuasan itu bisa membesar menjadi api yang menghanguskan.

Masih ada harapan

Saat bertanya kepada artificial intelligence satu kata apa yang mengubah dunia, akal imitasi ini menyodorkan empat kata: Iman, Pengharapan, Kasih, Perubahan.

Pas sekali dengan ucapan Rasul Paulus: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1Kor 13:13).

Rakyat yang ingin suaranya didengar dan ditindaklanjuti, dan bukan hanya ditampung.

Mereka memiliki iman dan pengharapan bahwa pemerintah bisa mengatasi kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Semua aspirasi itu dituangkan dengan langkah konkret: demo penuh kasih. Katakan dengan bunga—memberikan bunga kepada aparat TNI-POLRI—membuat mata saya membasah oleh rasa haru yang membuncah. 

Bunga—bukan lemparan batu dan api—bisa jadi kekuatan dahsyat untuk sebuah perubahan asal diresponi dengan tindakan nyata, bukan bahasa berbunga-bunga yang basi dan penuh manipulasi seperti penggalan lagu “Flower”—Jisoo Blackpink: 

I fly away like a blue butterfly

It's all on you, you didn't hold on

Even the times that we were in full bloom

To me where a lie, lie, lie

Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lady Bird Johnson. Istri presiden AS Lyndon B. Johnson ini dengan brillian berkata, “Ketika bunga bermekaran, demikian juga harapan.”

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas