Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

RMB UIN Raden Mas Said Gelar Forum Reflektif Peringati Hari Santri Nasional 2025

Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar Forum Reflektif dalam rangka Hari Santri 2025.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sri Juliati
zoom-in RMB UIN Raden Mas Said Gelar Forum Reflektif Peringati Hari Santri Nasional 2025
ISTIMEWA/UIN SURAKARTA
HARI SANTRI 2025 - Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar Forum Reflektif bertajuk Penguatan Moderasi Beragama di Aula Gedung SBSN Lantai I, Senin (20/10/2025). 

TRIBUNNEWS.COM - Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar Forum Reflektif bertajuk Penguatan Moderasi Beragama di Aula Gedung SBSN Lantai I, Senin (20/10/2025).

Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua PBNU Bidang Media, IT & Advokasi periode 2022-2027, Savic Ali yang dikenal luas sebagai tokoh penggerak narasi Islam moderat di ruang digital.

Forum dalam rangka Hari Santri 2025 ini juga menggandeng Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) sebagai penanggung jawab fakultatif 

Ketua RMB UIN Surakarta, Dr Bakhrul Amal menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penguatan moderasi di seluruh fakultas UIN. Menurutnya, setiap fakultas memilih fokus sesuai dengan tantangan keilmuannya. 

FUD, lanjutnya, menghadirkan Savic Ali untuk menjawab problem zaman: bagaimana membedakan realitas dari representasi media, serta menyikapi informasi yang kerap tidak sejalan dengan fakta.

"Moderasi tidak cukup diajarkan, tetapi harus dipahami melalui kemampuan membaca konteks," ujarnya.

Sementara itu, Dekan FUD, Dr Kholilurrohman menegaskan tentang pentingnya berpikir kritis tanpa kehilangan kelembutan dalam bertutur.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kita harus memiliki pikiran yang ketat untuk diri sendiri, tetapi ketika keluar, ia harus tetap disampaikan dengan lembut," pesannya sembari mengajak mahasiswa untuk tidak hanya hadir, tetapi juga menyerap manfaat dan keberkahan dari forum tersebut.

Wakil Rektor I UIN Raden Mas Said Surakarta, Dr Zainul Abbas mengatakan, RMB membentuk forum seperti ini bukan sekadar untuk mengulang istilah moderasi, melainkan memperteguh cara berpikir di tengah meningkatnya arus radikalisme.

"Moderasi bukan untuk menengahi semata, tetapi untuk memperkuat kesadaran bahwa keberagaman adalah kenyataan yang harus dihadapi dengan akal sehat dan keluasan pandangan," ujarnya.

Dalam paparannya, Savic Ali mengajak peserta untuk meninjau ulang makna moderasi dari sisi kegelisahan zaman, bukan sekadar definisi.

Baca juga: Rumah Moderasi Beragama UIN RM Said Dorong Tradisi Literasi Lintas Iman di Salatiga

"Moderasi telah menjadi kata yang lelah—sering diucapkan, jarang diperbarui. Banyak orang merasa telah memahami moderasi, padahal yang terjadi adalah pengulangan tanpa pembaruan makna," ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan di era digital bukan hanya ekstremisme, melainkan kejenuhan terhadap narasi yang tidak menyentuh realitas.

"Generasi muda hari ini tidak lagi berada di ruang kajian, tetapi di ruang algoritma. Mereka belajar agama dari potongan video, komentar, dan meme. Karena itu, moderasi membutuhkan bahasa baru, keberanian untuk hadir dalam percakapan riuh, dan kemampuan menjaga nurani di tengah hiruk pikuk opini," tutur Savic. (*)

Sesuai Minatmu

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas