Turkiye Pasca Inflasi: Antara Peluang dan Tantangan
Inflasi tinggi yang melanda Turkiye dalam 5 tahun terakhir memberikan dampak yang kontras di internal dan eksternal negara Turkiye
Editor:
Tiara Shelavie
Oleh Faiz Arhasy (Penerima Beasiswa Erasmus+ 2024, Polandia)
Lima tahun terakhir, Turkiye menghadapi tingkat inflasi yang tinggi dengan dampak yang terasa di berbagai sektor, baik domestik maupun internasional. Pemerintah Turkiye sempat menerapkan kebijakan tidak lazim dengan menurunkan suku bunga di tengah lonjakan inflasi. Pada akhir 2021, suku bunga sempat mencapai 14 persen dan terus ditekan hingga 8,5 persen pada Februari 2023.
Langkah tersebut diambil dengan harapan agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan dan pertumbuhan sektor riil bisa terjaga meski tekanan inflasi meningkat. Namun, kebijakan ini tidak memberikan hasil sesuai harapan. Alih-alih menurun, tingkat inflasi justru melonjak hingga 64,27 persen pada 2022 dan 64,77% pada 2023. Akhirnya, pemerintah kembali mengikuti kebijakan konvensional dengan menaikkan suku bunga—yang sempat menembus 50% pada 2024 sebelum turun ke 46% pada 2025.
Tahun ini, muncul sinyal pemulihan dari sektor produksi dan ekspor. Salah satu pencapaian besar adalah penjualan 48 pesawat tempur KAAN ke Indonesia pada Juli lalu. Industri tekstil dan otomotif juga menunjukkan kinerja kuat, mendorong pertumbuhan ekspor sebesar 6% pada paruh pertama 2025. Meski begitu, impor turut meningkat hingga 10%, yang menjadi catatan penting karena defisit transaksi luar negeri dapat mengancam stabilitas ekonomi jangka panjang.
Sektor pariwisata juga memperlihatkan geliat positif. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turkiye, Mehmet Nuri Ersoy, mengumumkan bahwa pada kuartal pertama 2025 sebanyak 8,84 juta wisatawan telah berkunjung ke Turkiye, menghasilkan pendapatan sekitar 9,5 miliar dolar AS.
Namun, inflasi tetap membawa konsekuensi dalam kehidupan sehari-hari. Kenaikan harga sewa dan properti menjadi beban besar bagi rumah tangga, sementara meningkatnya harga kebutuhan pokok menekan daya beli masyarakat. Di sisi lain, meskipun kebijakan kenaikan suku bunga efektif menahan inflasi, dampaknya terasa pada perlambatan sektor riil.
Mahasiswa Indonesia di Turkiye pun tidak luput dari dampak ini. Lonjakan harga kebutuhan hidup dan biaya pendidikan membuat situasi semakin berat, termasuk bagi penerima beasiswa yang memperoleh tunjangan dalam mata uang lira. Sebagian mahasiswa bahkan memilih menghentikan studinya karena kesulitan finansial yang makin menekan.
Kendati kebijakan awal pemerintah Turkiye belum membuahkan hasil optimal, upaya stabilisasi ekonomi terus dilakukan. Dengan potensi besar di sektor produksi, ekspor, dan pariwisata, Turkiye memiliki peluang untuk bangkit. Namun, tantangan berupa defisit luar negeri dan tekanan harga domestik masih harus dihadapi dengan hati-hati. Waktu yang akan menjawab, apakah Turkiye mampu menaklukkan tantangan pascainflasi dan menjaga momentum pemulihannya.
(*)
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.