Indonesia Jadi Jembatan Peradaban Dunia dalam Nilai Kebangsaan dan Harmoni
Indonesia tegaskan peran global sebagai jembatan peradaban dunia dalam World Peace Forum ke-9 di Jakarta.
Editor:
Glery Lazuardi
Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas)
- Wakil Ketua MPR RI periode 2024–2029
- Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI
Informasi pribadi
Tempat/Tanggal Lahir
Bandung 24 November 1980 (umur 44)
Latar Belakang Pendidikan
- Universitas Curtin, Perth
- Universitas Teknologi Nanyang
- Institut Pertanian Bogor
Pekerjaan
Politikus
TRIBUNNEWS.COM - Pentingnya peran Indonesia sebagai jembatan peradaban dunia dalam upaya memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan kolaborasi global.
Dialog itu penting karena membuka pintu dan membuat kita saling memahami.
Tapi dialog saja tidak cukup.
Kemajuan sejati terjadi ketika kita bekerja bersama, baik di bidang pendidikan, budaya, teknologi hijau, hingga pembangunan ekonomi yang inklusif.
Indonesia merupakan contoh nyata harmoni dan toleransi di tengah keberagaman, dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis dan ratusan bahasa daerah yang bersatu dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Melalui politik luar negeri “Seribu Kawan, Tanpa Musuh” (Thousand Friends, Zero Enemy), Indonesia berperan aktif sebagai jembatan antara Utara dan Selatan, Timur dan Barat, Dunia Islam dan Dunia Barat.
Kami tidak mengklaim punya semua jawaban, tapi kami berkomitmen untuk terus belajar, berbagi, dan berjalan bersama komunitas global menuju perdamaian dan saling pengertian.
Saya menyinggung pentingnya penguatan Wasatiyyat Islam (Islam yang moderat, adil, dan penuh kasih sayang) sebagai agenda global.
Indonesia telah membahas hal ini dalam pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal OKI di Jeddah pada Desember 2024.
Dunia membutuhkan Islam yang membawa kedamaian, bukan ketakutan.
Islam yang menumbuhkan harapan, bukan perpecahan.
Pengalaman saya menjadi pembicara utama dalam China Economic and Social Forum 2025 di Xi’an, yang dihadiri oleh 120 delegasi dari 24 negara.
Dalam forum tersebut, saya membagikan pengalaman Indonesia dalam membangun harmoni antara Islam, budaya Tionghoa-Indonesia, dan nilai-nilai Pancasila.
Peradaban tidak tumbuh dalam kesendirian. Ia berkembang melalui pertukaran, kerja sama, dan pembelajaran bersama.
Membangun perdamaian abadi tidak cukup hanya dengan berbicara, tetapi harus diwujudkan melalui kepemimpinan, kerja sama, dan tindakan nyata.
Indonesia berkomitmen untuk terus menjadi jembatan peradaban dunia — menjembatani perbedaan dengan kebaikan, membangun kepercayaan dengan keadilan, dan menciptakan perdamaian serta kemakmuran melalui aksi nyata.
Pernyataan ini disampaikan dalam pidato pembuka World Peace Forum ke-9, yang digelar di Gedung MPR RI, Jakarta, dengan tema “Indonesia as a Bridge of Civilizations: From Dialogue to Global Collaboration, Strengthening Values and Creating Harmony.”
Forum ini dihadiri oleh berbagai tokoh nasional dan internasional, di antaranya Presiden Timor Leste José Ramos-Horta, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Dr. M. Jusuf Kalla, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid, Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir, Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung, serta Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, selaku Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) dan juga Ketua World Peace Forum.
Turut hadir pula Tan Sri Lee Kim Yew, pendiri Cheng Ho Multi-Culture Education Trust, Malaysia; Syekh Prof. Dr. Mustafa Ceric, mantan Grand Mufti Bosnia-Herzegovina dan tokoh perdamaian dunia; bersama para diplomat, akademisi, dan perwakilan organisasi dari berbagai negara.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.