Menembus Persaingan Global: Kuliah dari Jepang Sambil Bekerja
Pendidikan digital tanpa batas lahirkan talenta global. Riris buktikan studi dan karier bisa berjalan beriringan.
Editor:
Glery Lazuardi
Riris Rifkiyah Alfitriyah
Mahasiswa Program Studi Digital Neuropsikologi Batch 6 Universitas Insan Cita Indonesia (UICI)
Tempat Tinggal di Hokkaido, Jepang.
Dunia pendidikan masa kini tengah mengalami pergeseran paradigma. Batasan geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengembangkan diri.
Di tengah ketatnya persaingan global, tren menempuh pendidikan formal sembari membangun karier profesional semakin meningkat.
Banyak individu kini mencari cara untuk tetap kompetitif secara akademis tanpa harus meninggalkan kesempatan kerja di luar negeri demi meningkatkan daya saing jangka panjang.
Saya memanfaatkan inovasi pendidikan untuk menaklukkan tantangan global. Riris sendiri merupakan salah satu talenta muda yang sejak awal menargetkan diri untuk menjadi Specified Skilled Workers (SSW) atau Tokutei Ginou di Jepang.
Sistem pendidikan digital yang diikutinya memberikan kemudahan luar biasa dalam menjaga ritme kerja dan studi.
Jadi semuanya begitu mudah, aku memanfaatkan pembelajaran yang ada di AI-Class, di mana dosen memberikan materi pembelajaran di situ seperti video pembelajaran, power point, dan ada fitur untuk kita memberi feedback langsung kepada dosen melalui kolom esai misalnya, itu sudah bisa diakses dari setiap pertemuan yang aku lewatkan. Mahasiswa bebas mengambil waktu pembelajaran kapanpun dan dimanapun.
Ini menjadi relevan di tengah tantangan besar Indonesia untuk menciptakan talenta digital yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Berdasarkan berbagai laporan strategis, Indonesia diprediksi membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga tahun 2030, atau sekitar 600 ribu orang per tahun.
Kesenjangan antara ketersediaan tenaga kerja ahli dengan kebutuhan industri teknologi menjadi "pekerjaan rumah" besar yang menuntut fleksibilitas pendidikan tinggi agar mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga adaptif secara praktik.
Lebih jauh lagi, tantangan bagi skilled workers untuk bersaing saat ini semakin berat akibat ketatnya kompetisi di skala nasional, regional, maupun global. Di tingkat ASEAN saja, mobilitas tenaga kerja ahli menuntut standar kompetensi yang tinggi.
Tanpa adanya gelar formal yang diakui dan penguasaan teknologi digital, pekerja migran atau tenaga ahli lokal berisiko terjebak dalam pekerjaan dengan nilai tambah rendah.
Persaingan global bukan lagi sekadar soal keterampilan teknis, melainkan tentang siapa yang mampu melakukan pemutakhiran ilmu (lifelong learning) di tengah kesibukan profesional.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.