Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribunners
LIVE ●
tag populer

Tribunners / Citizen Journalism

RDMP Balikpapan dan Kedaulatan Energi Bangsa

Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan fasilitas terintegrasi RDMP Balikpapan yang dilakukan pada Senin (12/1/2026).

Editor: Content Writer
zoom-in RDMP Balikpapan dan Kedaulatan Energi Bangsa
Dok. ESDM
KEDAULATAN ENERGI - Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan fasilitas terintegrasi RDMP Balikpapan. Peresmian ini dilakukan pada Senin (12/1/2026). 

Ditulis oleh:

Laode Sulaeman,

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM

TRIBUNNEWS.COM - Di dalam Asta Cita, Bapak Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran, disebutkan dalam butir 2 yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, "energi", air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Selanjutnya dalam butir 5 disebutkan Melanjutkan Hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri.

Seiring dengan kedua Asta Cita di atas, pada Senin, 12 Januari 2026, sejarah baru jendela untuk kebebasan impor BBM nasional telah terbuka. Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan fasilitas terintegrasi RDMP Balikpapan, yang terdiri atas:

  • Pembangunan Refinery Develompent Master Plant (RDMP) Kilang Balikpapan yaitu dari kapasitas 260 Ribu BOPD menjadi 360 Ribu BOPD.
  • Penambahan Kapasitas Tangki Timbun Crude Oil Lawe-lawe dari 5,6 juta Barrel menjadi 7,6 juta Barrel atau penambahan sebesar 2 juta Barrel.
  • Pembangunan Tangki Timbun BBM / Terminal Tanjung Batu dengan kapasitas 125.000 KL dan 4 Dermaga.
  • Pembangunan pipa gas pasokan bahan bakar kilang dari Senipah ke Balikpapan sepanjang 78 Km, 20 inch dengan kapasitas 125 MMSCFD.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa peningkatan ketahanan energi nasional ditunjukkan dengan seberapa besar kemampuan kita menyediakan pasokan energi melalui sumber-sumber dalam negeri dan sekaligus menurunkan ketergantungan kita atas Impor.

Saat ini, Indonesia memiliki 8 unit kilang pengolahan minyak bumi dengan total kapasitas sebesar 1,182 Juta BOPD dimana 6 unit merupkan milik Pertamina (BUMN) dan 2 unit milik BU swasta dengan rata-rata nilai NCI (Nelson Complexity Index) sebesar 4,9 hingga 5,4. Sementara itu demand kebutuhan BBM kita mencapai 1,6 Juta BOPD.

Rekomendasi Untuk Anda

Menyikapi hal tersebut, melalui penugasan Pemerintah, Pertamina memperkuat kapasitas kilang, salah satunya dengan meningkatkan kapasitas Kilang Balikpapan melalui program RDMP beserta sarana dan prasarana pendukungnya.

Proses pembanguan RDMP ini bertujuan meningkatkan kapasitas Kilang Balikpapan dari 260 Ribu BOPD menjadi 360 Ribu BOPD. Proyek ini selanjutnya masuk dalam ketegori PSN yang dimulai pada tahun 2019 dan sempat terjadi kendala perlambatan yang diakibatkan oleh wabah COVID 19. 

Dari sisi deliverabilty, proyek yang memakan biaya 7,4 Milyar USD (sekitar Rp123 Triliun) ini selain meningkatnya kapasitas menjadi 360 Ribu BOPD juga mampu meningkatkan porsi produk bernilai tinggi dari 75,3 persen menjadi 91,8%, dengan kualitas produk Setara EURO V dan indeks kompleksitas kilang meningkat dari 3,7 menjadi 8.

Baca juga: Lelang WK Migas Tahap III 2025 Telah Dibuka, Kementerian ESDM Tawarkan Kebijakan Fiskal Menarik

Dengan beroperasinya Kilang RDMP ini akan memperkaya produk bbm gasoline (5,8 juta KL/thn), diesel (1,8 juta KL/thn), Avtur (0,64 juta KL/thn) dan LPG (336 Ribu Ton/thn), serta produk petrokimia propilen sebanyak 225 Ribu Ton/thn. 

Dari total produksi tersebut akan memberikan potensi pengurangan nilai impor sebesar Rp68 Triliun per tahun. Selain itu benefit lainnya dari proyek ini adalah serapan tenaga kerja (fase konstruksi dan operasi) sebanyak 26.000 ribu orang, penyerapan TKDN sebesar 35?n peningkatan PDB nasional selama masa konstruksi sebesar Rp514 Triliun. 

Salah satu Unit utama dari pengembangan kilang terintegrasi yaitu Unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). RFCC menjadi unit utama yang akan memproduksi BBM serta produk bernilai tambah tinggi, sekaligus meningkatkan kompleksitas dan daya saing kilang nasional.

Tonggak sejarah penting melalui terbangunnya RDMP ini adalah ketanahanan energi dari sisi konsumsi BBM Diesel/Solar. Jika sebelumnya dengan pencanangan B40, telah terjadi penurunan nilai impor diesel, maka dengan beroperasinya RDMP ini akan memperkuat produksi diesel dalam negeri sampai ke tahap bebas impor, yang makin mengukuhkan Indonesia sebagai negara yang kuat dalam ketahanan energi nasionalnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, selanjutnya tengah menyiapkan strategi untuk percepatan produk-produk kilang, yaitu Bensin (RON 02, 95, 98) Solar (CN51), dan Avtur agar dapat segera bebas impor, dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Baca juga: Dialog dengan Warga Katingan, Ditjen Gakkum ESDM Ajak Jaga Tambang Tetap Legal

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas