Budidaya Maggot Dijadikan Solusi Sampah Organik Desa
budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan oleh mahasiswa UNS.
Editor:
Garudea Prabawati
Oleh: Mahasiswa UNS Rifqi Fawwaz Rijandra
TRIBUNNEWS.COM - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 92 Universitas Sebelas Maret (UNS) melakukan sosialisasi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada Selasa (10/2/2026).
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh persoalan sampah organik rumah tangga yang setiap hari dihasilkan warga, seperti sisa nasi, sayuran layu, dan kulit buah, yang kerap langsung dibuang atau dibakar.
Kondisi tersebut menimbulkan berbagai dampak, mulai dari bau tidak sedap, meningkatnya populasi lalat, hingga potensi pencemaran lingkungan, sehingga diperlukan solusi pengelolaan sampah organik yang sederhana dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa mencoba menghadirkan pendekatan sederhana yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.
Sampah organik selama ini sering dipandang sebagai limbah tak bernilai.
Padahal, jika tidak dikelola dengan baik, sampah jenis ini dapat mencemari tanah dan air di sekitar permukiman.
Budidaya maggot BSF diperkenalkan sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah organik yang mudah dan ramah lingkungan.
Larva lalat BSF mampu mengurai sisa makanan dengan cepat tanpa menimbulkan bau berlebih jika dikelola dengan benar.
Maggot bahkan dapat memakan sampah organik sebesar dua kali lipat dari beratnya.
Lebih dari itu, hasil budidaya maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bernilai tinggi untuk ternak dan perikanan.
Selain sebagai pakan ternak yang kaya akan protein, kasgot atau media dari maggot tersebut dapat dijadikan sebagai pupuk organik
Bayu (28), salah satu peternak ayam di Desa Durenan, mengaku baru pertama kali mendengar penjelasan mengenai budidaya maggot secara langsung.
Meski demikian, ia sudah mengetahui bahwa maggot kerap digunakan sebagai pakan alternatif.
Menurutnya, sosialisasi ini memberikan wawasan baru, tidak hanya bagi masyarakat awam, tetapi juga bagi peternak mandiri.
“Selama ini tahunya maggot cuma buat pakan, tapi cara budidayanya belum paham. Kegiatan seperti ini bagus, apalagi untuk peternak ayam atau ikan lele, karena bisa membantu mengurangi biaya pakan,” ujar Bayu.
Melalui sosialisasi ini, mahasiswa KKN UNS tidak hanya menyoroti persoalan sampah sebagai masalah lingkungan, tetapi juga sebagai peluang.
Pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot BSF dinilai mampu menjembatani dua isu sekaligus: kebersihan lingkungan desa dan menambah nilai ekonomi
Dengan pendekatan edukatif dan aplikatif, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah organik.
Dari yang semula dianggap sebagai sumber masalah, menjadi sumber manfaat yang dapat dikelola secara mandiri oleh warga desa.
(*)
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.