Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Memadankan Bara Api Peperangan Timur Tengah

Perang Timur Tengah kian meluas, ganggu energi, logistik global, dan tekan ekonomi Indonesia, pemerintah diminta siapkan strategi ketahanan nasional

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Memadankan Bara Api Peperangan Timur Tengah
Canva/Tribunnews.com
PERANG IRAN ISRAEL - Ilustrasi perang Iran dengan Israel yang dibuat pada Sabtu (21/6/2025). 
profile tribunners
PROFIL PENULIS
​Dr. Eko Wahyuanto
Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik

TEPAT 31 Maret 2026, perang di Timur Tengah genap memasuki bulan kedua. Bukan mendingin, bara api peperangan itu justru mengalami eskalasi horizontal sistematis.

Polanya tetap, namun front perang melebar, sementara diplomasi jalan di tempat, dan ekonomi global mulai tercekik secara struktural.

​Data Reuters mengonfirmasi keterlibatan Houthi bukan sekadar retorika. Serangan resmi mereka ke wilayah Israel membuka kotak pandora di jalur pelayaran Semenanjung Arab.

Jika selama ini dunia hanya mencemaskan Selat Hormuz sebagai urat nadi energi, kini Bab el-Mandeb dan Laut Merah resmi menjadi zona merah mencekam. 

Bagi raksasa logistik seperti Maersk dan Hapag-Lloyd, ini realitas pahit. Biaya tambahan (surcharge) meroket tajam, dan rantai pasok global dipaksa mencari rute memutar melalui Tanjung Harapan yang jauh lebih mahal.

​Geopolitik Tersandera Domestik

​Ada pergeseran fundamental dalam determinasi perang kali ini. Arah konflik tidak lagi hanya ditentukan moncong meriam di garis depan, tetapi juga tekanan domestik di meja makan warga Washington, Tel Aviv, dan Teheran. 

Beginilah "perang terhadap biaya hidup" sebenarnya, di mana inflasi menjadi peluru lebih mematikan daripada misil balistik.

Rekomendasi Untuk Anda

​Di Amerika Serikat, Donald Trump menghadapi ujian kredibilitas pelik. Harga bensin nasional menembus angka psikologis US$4 per galon, melonjak 36 persen dalam satu bulan. 

Polling Reuters/Ipsos menunjukkan angka approval Trump merosot ke 36 persen, sementara 61 persen responden menolak keterlibatan militer langsung ke Iran.

Washington terjepit secara politik, butuh kemenangan strategis cepat demi wibawa, namun harus menghindari "perang abadi" (boots on the ground) yang bisa menghancurkan ekonomi menjelang siklus politik berikutnya.

​Kondisi serupa terjadi di Israel. Meski Netanyahu berhasil mengamankan anggaran 2026 di Knesset dan menghindari pemilu dini, fondasi ekonominya mulai keropos. Bank of Israel memangkas ekspektasi pertumbuhan akibat anjloknya sektor pariwisata, konsumsi, dan kelangkaan tenaga kerja.

Di sisi lain, Iran bertahan dengan represi keras. 

Pengerahan keamanan besar-besaran, hingga melibatkan relawan di bawah umur di titik pemeriksaan Basij, menunjukkan bahwa stabilitas Teheran saat ini bertumpu pada ketakutan, bukan konsensus sosial organik.

​Diplomasi Layu dan Krisis Asia

​Upaya damai yang digalang Pakistan lebih mirip "alat pemadam kebakaran" darurat daripada arsitektur solusi permanen. Iran tegas menolak proposal Amerika Serikat yang dianggap unrealistic. 

Sejauh ini, saluran diplomasi hanya berfungsi mencegah ledakan nuklir atau perang total, namun belum menyentuh substansi konflik. Semua pihak masih berada dalam fase mencari posisi tawar (bargaining position) terkuat sebelum dipaksa duduk di meja perundingan.

​Singapura menyebut gangguan di Hormuz sebagai "Asian Crisis". Bagi kawasan Asia-Pasifik, perang ini guncangan ganda, energi mahal dan pelemahan mata uang sistemik. Indonesia berada di titik episentrum risiko itu. 

Data menunjukkan sekitar 25% impor minyak mentah (crude) dan 30% impor LPG bergantung pada stabilitas Timur Tengah. Setiap kenaikan satu dolar pada harga Brent menambah beban subsidi energi dan menekan nilai tukar Rupiah.

​Logistik global terganggu menaikkan harga bahan baku industri secara masif, mulai dari petrokimia hingga pupuk. Ini ancaman nyata bagi ketahanan pangan dan stabilitas harga domestik. 

Jika tidak diantisipasi, biaya freight yang tinggi akan bermuara pada kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional.

​Strategi Ketahanan Nasional

​Indonesia tidak boleh menunggu atau sebaliknya bersikap reaktif. Bergeser ke mode ketahanan nasional secara disiplin menjadi pilihan strategis. Langkah pertama: Sektor Energi. 

Pemerintah melalui ESDM dan Pertamina harus memastikan stok fisik crude dan LPG untuk jangka panjang. Diversifikasi pemasok dari kawasan non-konflik kini menjadi keharusan mendesak yang tidak bisa ditawar.

​Langkah kedua: Stabilitas Moneter dan Fiskal. Koordinasi Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan harus berada pada level tertinggi (tier-1). Intervensi pasar valas diperlukan menjaga Rupiah dari sentimen risk-off global. Pengelolaan ekspektasi publik sangat krusial guna mencegah kepanikan pasar yang bisa memicu buying spree dan inflasi di atas target. 

Langkah ketiga: Perlindungan Sektor Riil. Memetakan industri strategis yang rentan terhadap kenaikan biaya logistik agar roda produksi tidak terhenti.

​Strategis Diplomasi dan Kedaulatan

​Secara geopolitik, Indonesia dapat memainkan kartu diplomasi lebih agresif. Sebagai pemimpin alami ASEAN dan aktor penting G20, Jakarta dapat mendorong konsolidasi kekuatan menengah (middle powers) untuk menekan aktor utama konflik kembali ke meja perundingan. 

Bagi Indonesia stabilitas Timur Tengah "hak asasi ekonomi" warga dunia.

​Di dalam negeri, penguatan kedaulatan energi melalui percepatan transisi energi terbarukan dan optimalisasi sumber daya domestik menjadi proyek prioritas nasional. 

Hal ini harus dikawal ketat jika perlu melibatkan militer dan sipil untuk memastikan letupan bom di Teluk tidak mengguncang dapur rakyat di pelosok Nusantara.

​Pelaku Usaha dan Masyarakat

​Bagi dunia usaha, antisipasi rasional adalah kunci bertahan hidup. Pengusaha harus meninjau ulang kontrak harga tetap (fixed price) dan memendekkan masa berlaku kuotasi harga.

Amankan stok bahan baku kritis untuk 30 hingga 45 hari ke depan dan cari rute atau vendor alternatif. Penting melindungi arus kas (cash flow) dengan ketat.

Bagi masyarakat, menghemat energi dan menjaga likuiditas rumah tangga dengan menahan belanja non-primer adalah bentuk patriotisme baru. Hindari konsumsi agresif untuk barang impor.

Ini bukan ajakan panik, melainkan respons rasional terhadap fakta bahwa biaya hidup terdorong naik oleh faktor eksternal luar biasa.

Bara api perang di Timur Tengah harus segera padam. Bagi Indonesia, perdamaian di sana adalah harapan ketahanan di dalam negeri. Kita harus disiplin pada urusan energi, logistik, dan likuiditas. Jangan sampai api perang di sana memadamkan harapan ekonomi di sini.

Saatnya bertindak tenang, cepat, dan praktis. Kita butuh jembatan diplomasi kokoh untuk meredam angka korban yang terus bertambah.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas