Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pengembangan Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu di Timor Tengah Selatan

Potensi tersebut harus didukung dengan pengelolaan mulai dari budidaya hingga penanganan pascapanen.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Willem Jonata

Laporan Wartawan Pos-Kupang.Com, Oby Lewanmeru

TRIBUNNEWS.COM, KUPANG - Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sangat potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi NTT.

Untuk pengembangan itu, perlu memperhatikan pengolahan di tingkat masyarakat.

Hal ini disampaikan Dr Ani A Nawir dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (The Center for International Forestry Research - CIFOR) ketika tampil sebagai salah satu narasumber pada kegiatan pertemuan multi pihak dalam menggagas kebijakan pengelolaan HHBK terpadu di NTT.

Acara ini berlangsung selama dua hari yakni sejak Selasa dan Rabu (19 -20/7/2016) di Hotel Ima, Kupang.

Menurut Ani, HHBK sangat potensi utnuk dikembangkan di NTT terutama di Kabupaten TTS. Selain TTS, memang ada beberapa daerah juga yang termasuk potensial untuk dikembangkan HHBK.

"Khusus di TTS memang sangat potensial untuk kita kembangkan HHBK. Selain di TTS, Flores dan Sumba juga punya potensi yang hampir sama," kata Ani.

Rekomendasi Untuk Anda

Dijelaskannya, potensi tersebut harus didukung dengan pengelolaan mulai dari budidaya hingga penanganan pascapanen.

"Kendala yang kami lihat dihadapi di TTS, yakni tingkat pengolahan HHBK ini yang belum optimal, akibat minimnya teknik untuk budidaya HHBK. Memang ada hasil penelitian, namun belum diterapkan di lapangan," katanya.

Dikatakan, selain pada tingkat budidaya, ada juga kendala lain seperti pemasaran dan dalam pemasaran ini membutuhkan jumlah dan mutu.

Bahkan, kendala lain yang dihadapi misalnya masih tumpang tindihnya kebijakan, sehingga membutuhkan solusi yang kondusif.

Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi NTT, Dr. Petrus Keron mengatakan, dalam pengelolaan HHBK di NTT, perlu diperhatikan supaya tidak ada masalah.

"Tolong libatkan masyarakat di sekitar lokasi. Mereka itu jadi pelaku utama pengelolaan hutan. Mereka itu yang tinggal di sekitar lokasi sekolah," ujarnya.(*)

Sumber: Pos Kupang
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas