Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Kenapa Bullying di Dunia Pendidikan Masih Marak dan Apa Dampaknya ke Anak?

Kenapa kasus bullying di dunia pendidikan masih terus terjadi? Bagaimana hal ini berdampak pada anak? Berikut penjelasannya.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Content Writer
zoom-in Kenapa Bullying di Dunia Pendidikan Masih Marak dan Apa Dampaknya ke Anak?
Dok. Unsplash
KASUS PERUNDUNGAN - Ilustrasi bullying di lingkungan pendidikan yang menimbulkan dampak emosional bagi anak. 

TRIBUNNEWS.COM - Perundungan di sekolah lagi-lagi njadi perhatian banyak orang. Meskipun sudah banyak kampanye anti-bullying yang dilakukan, nyatanya bullying masih terus terjadi, mulai dari di tingkat SD dan bahkan hingga perguruan tinggi.

Perundungan terjadi ketika seseorang atau kelompok orang memanfaatkan kekuatan mereka untuk menyakiti atau mengontrol orang lain.

Bentuk perundungan itu beragam, mulai dari ucapan yang menyakitkan, dikucilkan oleh teman, tindakan fisik, hingga perundungan melalui media sosial yang bisa menyebar dengan cepat. Akibatnya, anak-anak jadi makin rentan menghadapi tekanan yang kadang tidak terlihat dari luar. 

Memang apa sih yang menyebabkan bullying atau perundungan bisa terjadi? Ternyata, faktornya bermacam-macam dan seringkali hal ini disebabkan karena anak belum memiliki toleransi terhadap perbedaan yang ada di lingkungan mereka. 

Contohnya perbedaan ekonomi, jumlah kelompok, bahkan popularitas Di satu sisi, ada yang merasa diuntungkan dengan perbedaan ini sehingga memicu tindakan perundungan, sementara di sisi lain, ada anak yang merasa tidak aman akibat adanya ketimpangan dan berakhir menjadi korban. Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat belajar dan bertumbuh bukan tempat yang memicu rasa takut.

Baca juga: Cegah Bullying di Sekolah, 270 Ribu Guru Mapel Disiapkan Jadi Guru Wali

Kenapa Dampaknya bisa Panjang?

Dampak bullying tidak hanya dirasakan sesaat. Menurut Alodokter anak yang mengalami perundungan bisa trauma dalam jangka panjang. Efeknya muncul dalam berbagai bentuk seperti kecemasan, sulit berkonsentrasi, mimpi buruk, hingga hilangnya rasa percaya diri. Sebagian anak bahkan menjadi menarik diri dari lingkungan atau kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya mereka sukai.

Di bidang akademik, trauma ini juga bisa mengganggu aktivitas belajar anak. Anak yang takut ke sekolah sering merasa lelah secara mental, sulit fokus, dan prestasinya pun turun. Sayangnya, masalah ini sering disalah artikan sebagai "malas" atau "tidak mau belajar," padahal sebenarnya mereka sedang berusaha menghadapi tekanan emosional. 

Bagaimana Cara Mencegah dan Mengatasinya?

Rekomendasi Untuk Anda

Mencegah bullying membutuhkan kerja sama dari semua pihak, mulai dari keluarga hingga institusi pendidikan. Lingkungan sekitar anak perlu menjadi tempat yang mendorong rasa empati, bukan tempat yang mendorong persaingan berlebihan.

Di sekolah-sekolah, program pembelajaran tentang emosi, pendidikan digital, serta kampanye anti-perundungan juga bisa membantu mengubah cara berpikir siswa dan menciptakan suasana yang saling menghargai.

Alodokter menyebutkan proses pemulihan trauma membutuhkan dukungan berlapis. Peran guru, orang tua, dan teman sebaya sangat penting dalam menciptakan ruang aman bagi anak. Berbicara secara terbuka, memberikan validasi emosi. Sekolah juga perlu menerapkan prosedur yang jelas ketika laporan bullying masuk, bukan hanya sekedar memberi teguran tetapi perlu juga untuk membangun sistem pencegahan.

Sedangkan ketika perundungan sudah terlanjur terjadi, Dalam beberapa situasi, bantuan dari profesional seperti konselor atau psikolog sangat penting dalam beberapa situasi. Soalnya, anak-anak yang mengalami trauma sering kali sulit menyampaikan perasaan mereka secara langsung. Bantuan dari ahli juga bisa membantu mereka mengatasi rasa takut dan meningkatkan rasa percaya diri mereka. 

Pada akhirnya, bullying bukan hanya soal tindakan dari satu orang, tetapi juga tentang bagaimana sistem pendidikan menghadapi kekerasan yang terjadi di dalamnya. 

Kalau kamu melihat tanda-tanda bullying, melapor atau memberi dukungan sederhana sudah dapat membuat perbedaan besar. Langkah sederhana seperti itu pun bisa banget jadi titik awal anak agar merasa lebih aman lagi!

Baca juga:  Hari Guru Nasional, Ketua DPR Harap Sekolah Bisa jadi Ruang Aman di Tengah Maraknya Kasus Bullying

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas