“Penting melibatkan mereka. Jangan asingkan mereka. Anda butuh bantuan mereka,” jelasnya.
Tak hanya mencegah infeksi HIV, agama juga bisa menjadi penghibur dan tempat mengadu bagi mereka yang sudah terinfeksi, ucap Herman Varella dari organisasi Positive Rainbow, yang memberi dukungan bagi mereka yang hidup dengan HIV di Jakarta, Indonesia.
Organisasinya mengadakan Focus Group Discussion dengan melibatkan 29 orang, dan juga mewawancara secara mendalam 14 orang dari 29 orang tersebut. Kesemuanya laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (MSM), dan HIV positif.
Dari penelitian yang mereka lakukan, didapati bahwa banyak dari peserta menganggap agama penting dalam kehidupan mereka, dan melakukan ritual agama mereka. Ada pula kasus di mana seorang dengan HIV yang kondisinya sudah sangat parah memilih untuk dirawat pihak Gereja ketimbang dinas sosial, karena merasa ini saat Ia mendekatkan diri pada Tuhan.
“Harapan terakhir MSM sebagai bagian dari hasil FGD, mereka ingin agar pemimpin agama ke depan lebih friendly terhadap kelompok MSM dan mendoakan mereka agar lebih sehat,” tutur Herman.
Sebuah diskusi tentang agama dan HIV di AIDS 2014 (Foto: Dina Indrasafitri)
Agama memang cukup banyak dilibatkan dalam konferensi internasional yang dihadiri belasan ribu peserta itu.
Di kawasan Global Village, yaitu semacam kawasan expo, ada los khusus yang berbau religius. Di los bernama ‘Faith Networking Zone’ ini, diadakan meditasi, yoga, dan juga pertemuan dipimpin Pendeta.
Dan tak hanya dalam hal HIV, agama pun dibahas terkait penanggulangan diskriminasi terhadap kaum minoritas seperti kaum gay atau jenis kelamin ketiga di India, yang disebut ‘Hijra’, dan juga seksualitas secara umum.
Memang ada berbagai tantangan, seperti yang diceritakan pendeta JP Mokgethi-Heath, yang aktif dalam melibatkan komunitas agama untuk menanggulangi penyebaran HIV.
“Menggerakkan masyarakat, dari ketidakpedulian ke arah gerakan positif adalah tantangan besar, dan saat tantangan tersebut termasuk berbicara tentang sesuatu yang begitu pribadi seperti seksualitas, maka akan timbullah benteng,” ucapnya,
“Yang bisa kita lakukan hanyalah menyediakan alat. Karena, saat kita mulai bisa merangkul mereka, kita mulai melangkah dalam perjalanan untuk mencapai solusi,” ucapnya.
Baca tanpa iklan