Warwick Levy kurang bahagia, cemas dan sedih saat memutuskan berhenti dari kuliahnya di bidang konstruksi dan memilih mulai membuat kaos di tahun 2010.
Ia mulai menjahit kaos dengan label \'Lonely Kids Club\'. Setiap hari Sabtu, ia menjual pakaiannya di pasar Glebe, di kota Sydney dengan harga yang bisa terus meneruskan bisnisnya.
"Etis akhirya menjadi inti dari merek ini dan bagaimana kita melakukan hal-hal dengan etis. Semakin saya belajar tentang industri fashion, semakin tahu banyaknya praktek-praktek yang tidak saya setujui," kata Warwick, yang mengoperasikan label butiknya di Sydney utara.
Fast Fashion, istilah bagi merek-merek fesyen jejaring internasional, sekarang sudah semakin marak, setelah butik fesyen Zara membuka toko pertamanya di Sydney, lima tahun lalu.
Rata-rata warga Australia menghabiskan rata-rata $ 2.288, atau lebih dari Rp 22 juta, untuk membeli pakaian dan sepatu setiap tahunnya. Limbah rumah tangga yang jumlahnya bertambah pesat adalah pakaian, dengan nilai pakaian yang dibuang di tahun 2013 mencapai lebih dari $500 juta atau Rp 5 triliun.
"Kita membeli lebih banyak pakaian dalam sejarah, jumlahnya meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir," kata Lisa Heinze, penulis dan akademisi di University of Sydney. Lisa banyak melakukan penelitian di bidang fashion dan keberlanjutan.
"Ada banyak informasi di luar sana yang menunjukkan bahwa produk [fast fashion] diproduksi dengan pemikiran akan dibuang setelah dipakai, biasanya dirancang hanya untuk dipakai 10 tahun atau kurang, sehingga bahan yang digunakan pun tidak berkualitas dan jahitannya pun tidak bagus."
Rantai fesyen internasional mulai ramah lingkungan
Meski sejumlah butik jejaring internasional seperti H&M, Zara, dan Topshop mengalami peningkatan pangsa pasar, perusahaan-perusahaan ini pun menjadi waspada soal permintaan konsumen yang beralih ke pakaian yang lebih ramah lingkungan dan etis.
Bulan lalu, Zara meluncurkan koleksi pakaian ramah lingkungan, diikuti produsen ritel lainnya termasuk H&M dan Topshop yang mengikuti inisiatif gerakan hijau, seperti mendaur ulang bahan pakaian tua.
Menurut perusahaan riset Euromonitor International, konsumen mencari lebih banyak produk berkelanjutan dan ekonomi sirkular, yang didefinisikan sebagai ekonomi industri yang tidak menghasilkan limbah atau polusi.
"Ini adalah kebalikan dari "bikin, beli, buang", aliran model satu arah dari bahan baku ke pabrik, kemudian konsumen, hingga tempat pembuangan akhir. Ada potensi mengunah cara kita melakukan bisnisnya," tulis laporan dari Euromonitor berjudul \'The New Consumerism dan diterbitkan awal tahun ini.
"Aspek keberlanjutan semakin menjadi bagian dari model bisnis perusahaan barang-barang konsumen dan menjadi semakin penting dalam benak konsumen."
Fast Fashion biasanya mengambil tren di pekan mode dunia, kemudian diproduksi untuk konsumsi masal , siklus produksinya sangat pendek sekitar 4 minggu. Pakaian dengan biaya produksi rendah dibuat hanya untuk bertahan satu musim, dan pelanggan dengan mudahnya datang kembali ke toko tersebut untuk membeli baju baru dengan koleksi-koleksi baru yang biasanya tersedia setiap minggu.
"Pastinya ada lebih banyak kesadaran dari konsumen yang ingin melihat keterbukaan dari semua merek yang mereka beli, termasuk merek fesyen.. ini semua soal konsumen yang benar-benar ingin tahu dimana dan bagaimana mereka diproduksi," kata Lisa.
Yayasan non-profit di Inggris, Fashion Revolution menemukan 400 miliar meter persegi kain diproduksi setiap tahunnya dengan 60 miliar meter persegi dibuang. Pembuatan sepotong kaos berbahan katun membutuhkan 2.700 liter air, setara dengan air yang kita minum selama lebih dari tiga tahun.
Baca tanpa iklan