Ketika ditanya kapan film produksinya diputar di Australia, Sunil menuturkan, ia tengah menunggu pihak yang mau diajak bekerja sama.
“Sementara, ini (Melbourne Rewind) hanya diputar di Indonesia. Tapi kenapa tidak (diputar di Australia?). Kalau memang ada yang tertarik dan ada kesempatannya, kami siap menayangkan di sana, tapi terlebih dahulu kami dilibatkan dalam diskusi,” paparnya.
Bagi Winna Efendi, karya seni dan sastra seperti ‘Melbourne Rewind’ tak hanya mengumbar romantisme. Lebih dari itu, goresan pena dan tontonan visual bisa menjadi jembatan budaya dan memberi pemahaman di tengah masyarakat yang beragam.
“Saya pribadi senang membaca karya Nigel Gray dan Melina Marchetta yang merupakan pengarang Australia, lalu mengenal sedikit kebudayaan dan gaya hidup di sana lewat buku mereka,” ujarnya.
Dia pun bermimpi, “Alangkah menarik jika warga Australia atau orang Indonesia yang tinggal di sana juga berkesempatan menikmati sastra dan seni Indonesia dari kacamata lokal.”
Baca tanpa iklan