Dokumentasi yang berisi beberapa tradisi budaya Bali kuno beresiko terhapus dari ingatan modern hingga kini.Namun berkat penemuan beberapa rekaman dari era sebelum Perang Dunia II, muncul harapan baru.
Pada tahun 1928, perwakilan dari dua perusahaan rekaman Jerman datang ke Bali untuk merekam gamelan dan musik vokal. Mereka memproduksi satu-satunya salinan fisik musik Bali yang diketahui sebelum Perang Dunia II.
Walau rekaman ini gagal dijual di Bali, tanpa sadar mereka mengabadikan sesuatu yang menarik antusiasme internasional. Melalui serangkaian acara - juga upaya ilmiah yang terpadu, produksi rekaman tahun 1928 yang asli, kini, "zaman keemasan" musik Bali menjadi perhatian lokal dan dunia.
Kisah bagaimana rekaman itu digali kembali di tahun 1930an bermula ketika komposer Colin McPhee mendengarnya di New York. Ia begitu terpikat, dan memutuskan mengesampingkan karirnya dan pergi ke Bali.
McPhee tiba di Bali ketika periode revolusi artistik terjadi. Jatuhnya kerajaan Bali kuno akibat invasi militer Belanda pada tahun 1906 dan 1908 telah menyebabkan seni Bali berpindah dari istana ke desa-desa setempat.
Dalam memoarnya, ‘A House in Bali’ (Sebuah Rumah di Bali), McPhee menulis tentang mantra musik Bali yang kuat, dengan kelompok gamelan lokal bersaing untuk tampil lewat karya baru.
Ia menceritakan bagaimana beberapa musisi akan bersembunyi dan diam-diam mendengarkan latihan kelompok lain sehingga mereka bisa membawa komposisi baru kembali ke desa sendiri.
Dan meski sebagian besar rekaman asli di Jerman telah hancur, McPhee menyimpan salinannya.
Kini, ahli etnomusikologi AS, Edward Herbst, dan rekan-rekannya di proyek Bali 1928 telah mencari arsip, perpustakaan, universitas dan catatan pribadi di seluruh dunia untuk memulihkan rekaman itu sebanyak mungkin.
Proyek ‘Bali 1928’
Didorong keinginan untuk menampilkan kembali pengetahuan tentang seniman dan gaya Bali yang hilang, Herbst bekerja sama dengan ‘Arbiter of Cultural Traditions’ di New York memulihkan dan menerbitkan ulang rekaman tahun 1928 tersebut.
Mereka berhasil menghubungkan rekaman tersebut dengan film bisu tentang pemusik dan penari yang direkam oleh McPhee, seniman Meksiko Miguel Covarrubias dan pelopor tari Swedia Rolf de Maré pada tahun 1930an.
"Kami beruntung karena sebagian besar rekaman yang diperoleh McPhee berhasil masuk ke arsip UCLA dan properti McPhee di AS," kata Marlowe Bandem, koordinator ‘Proyek Bali 1928’ kepada ABC.
"Koleksinya adalah sebagian besar rekaman yang telah dipulangkan ke Bali oleh tim tersebut," imbuhnya.
Baca tanpa iklan