Hedar Abbas Abadi pernah melukis potret di istana Saddam Hussein, tapi kini, ia jauh lebih nyaman melukis di garasinya yang banyak tercoreng cat.
"Ini adalah sebuah garasi, tapi ini kerajaan saya. Saya menghabiskan banyak waktu di sini," ujar Hedar.
Meski menganggap karirnya sebagai bentuk permainan anak, Hedar adalah artis yang dihormati. Sejak meninggalkan Irak pada tahun 1992 -pertama menuju Jordan kemudian ke Australia -ia telah menunjukkan karyanya secara internasional dan memenangi beberapa penghargaan.
Pameran tunggalnya yang terbaru, Save Our Fish From Drowning (Selamatkan Ikan Kita Agar Tak Tenggelam), dipamerkan di pusat seni Casula Powerhouse di Sydney barat.
"Saya melukis 70 persen dari karya seni saya dan 30 persennya merupakan kejutan bagi saya. Itu adalah tekniknya," tutur Hedar.
Karya seninya memiliki subyek yang tak biasa, begitu pula gayanya. “Save Our Fish From Drowning” menampilkan sosok surealis, hampir sosok sensual yang sebagian merupakan ikan, sebagian lagi perempuan -tak seperti yang diharapkan dari seorang Muslim kelahiran Irak.
"Sungguh, Islam itu mudah, tapi beberapa Muslim tak memahaminya," ujarnya.
"Di Syiah, Anda bisa melukis apapun, Anda bisa membuat patung, Anda bisa bermusik," sebut Hedar.
Lebih prihatin akan karyanya ketimbang nilai religius, Hedar percaya bahwa tubuh manusia seharusnya tidak tabu.
Dan dalam serial terbarunya, keputusan untuk melukis tokoh perempuan dimotivasi oleh ketidaksetaraan yang dialami para perempuan di Timur Tengah.
"Di negara saya ... perempuan tak diperlakukan setara. Perempuan di Timur Tengah menjalani kehidupan yang sulit."
Membantu untuk menerjemahkan, putri Hedar, Mariam, seorang siswa SMA yang bercita-cita menjadi fotografer, menjelaskan: "Perempuan selalu menjadi pihak yang paling banyak memiliki tekanan, dan harus mengurus semuanya.”
"Ia tak bisa melakukan apapun yang ia mau -ia tak memiliki hak di Timur Tengah."
Baca tanpa iklan