Fenech mengatakan meski ia sering menjelaskkan kepada pelanggannya kalau ayam-ayam itu dipelihara di kandang dan gudang, mereka tetap datang untuk meminta ayam free-range.
Ia merasa telah terjadi kesalahan menerjemahkan.
"Apa yang sebenarnya mereka maksud adalah mereka mau induk ayam yang masih muda karena itu yang biasa mereka beli di tempat asalnya," kata Fenech.
"Sejauh yang saya amati, tidak ada yang membiakkan jenis ayam ini untuk konsumsi manusia secara free-range".
Kata pakar
Ray Lee, manajer unggas pada Asosiasi Peternak NSW mengatakan ia tidak melihat sama sekali ada bisnis yang memroses atau menjual ayam ISA Brown untuk produksi daging, apalagi melakukannya secara free-range.
Ia mengatakan merasa penasaran tentang produksi ayam ISA Brown untuk konsumsi daging dan khawatir tentang biosekuriti dan masalah keamanan bahan pangan.
"Saya akan mengatakan kemungkinan tidak ada bahaya dalam waktu dekat karena otoritas pangan akan, kita berharap, mengawasi tempat pemrosesan itu," kata ia.
Dalam sebuah pernyataan, Food Authority NSW mengonfirmasi ayam ISA Brown juga diizinkan untuk dijual sebagai daging selama mereka diproses di fasilitas yang mendapat lisensi Food Authority NSW dan sesuai dengan ketentuan Food Standards Code.
Pernyataan itu menyebutkan setiap klaim yang tertera pada label makanan juga adalah subyek dari perundangan konsumen Australia, yang dikelola oleh Komisi Persaingan dan Perlindungan Konsumen (ACCC) yang melarang kesalahan, pengeliruan atau representasi yang menipu.
"Saat label dalam bahasa lain diiizinkan, label juga harus dalam bahasa Inggris dan kedua label itu harus jujur dan konsisten."
ACCC menolak berkomentar apakah mereka sedang menyelidiki masalah ini, tapi lembaga ini telah mendenda sejumlah perusahaan unggas besar di Australia sekitar Rp 4 miliar karena kesalahan dan klaim keliru tentang ayam free-range.
Diterjemahkan pukul 14:16 AEST 1/9/2017 oleh Alfred Ginting dan simak beritanya dalam bahasa Inggris di sini
Baca tanpa iklan