"Saya masih bekerja dengan ABC setiap hari," katanya sambil tertawa.
"Saya pergi ke kantor setiap hari."
Di Jakarta, keluarga Yanti merasa terlindungi karena dia tinggal di daerah dimana warganya berbaur termasuk banyak tetangga beragama Islam.
Ini membuat mereka merasa lebih aman, hal yang mungkin tidak akan dirasakan bila mereka tinggal di kawasan yang lebih banyak penduduk Tionghoanya.
Ketika mengingat kembali masa-masa sebelum [kerusuhan 1998], Yanti melihat peran Radio Australia - yang sekarang sudah tidak beroperasi lagi- yang memberikan layanan vital bagi orang Indonesia yang sangat membutuhkan informasi yang tidak memihak dan bebas.
"Kami menerima banyak surat dari pendengarnya," kata Yanti.
"Saat itu, Radio Australia adalah radio yang paling populer karena pendengarnya di Indonesia mendapatkan berita tentang politik dan segalanya."
\'ABC itu seperti rumah kedua saya\'
Selama hampir empat dasawarsa dengan kantor ABC Jakarta, Yanti telah melihat sekitar 10 koresponden ABC yang ditugaskan dari Australia datang dan pergi.
Selama wawancara kami, Yanti tidaklah tertarik dengan berita apa saja yang pernah dibuat oleh para wartawan ABC selama mereka ditugaskan di Jakarta.
Atau berbicara mengenai tugasnya yang kadang harus dilakukan di malam hari, atau di akhir pekan mengatur perjalanan para koresponden tersebut ke berbagai wilayah Indonesia sebagia bagian dari penugasan.
Sebaliknya, refleksi pengalamannya ini jauh lebih bersifat pribadi.
"Ketika saya mendapatkan gaji setiap bulan - pertama [kami sisihkan] untuknya," kata Yanti sambiil memperlihatkan segepok uang yang masih dikirimnya ke putrinya di AS, yang sekarang bekerja sebagai perawat.
"Saya cukup yakin bahwa Tuhan memberinya kehidupan yang lebih baik di sana."
Dari staf Indonesia lainnya di kantor, termasuk produser Ari, Ake dan Chicco.
"Mereka seperti keluarga saya, dan ABC seperti rumah kedua saya."
Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.
Baca tanpa iklan