Pria Australia Amer Khayat yang kini menjalani persidangan kasus teroris di Beirut, Lebanon, membantah terlibat dalam rencana peledakan pesawat Etihad Airways yang akan berangkat dari Sydney pada Juli 2017.
Bantahan itu tampaknya didukung oleh rekaman audio dari aplikasi WhatsApp yang diputar dalam persidangan kemarin.
Rekaman berisi percakapan antara Amer dan saudaranya Mahmoud Khayat.
Mahmoud sendiri saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka di Australia dan rencananya akan disidang di Sydney tahun depan.
Saudara Amer lainnya, Khaled, juga telah menjadi tersangka dalam rencana serangan teror ini.
Sementara saudara keempat Amer bernama Tayek, diketahui sebagai seorang komandan kelompok teroris ISIS yang ditangkap awal tahun ini di Irak.
Rekaman pembicaraan Amer dan Mahmoud diputar dalam pengadilan militer di Beirut, sebagai upaya untuk menentukan apakah Amer terlibat dalam rencana tersebut.
Kepolisian Federal Australia (AFP) sebelumnya menyatakan Amer tidak tahu apa-apa tentang rencana ini.
Amer ditahan pihak berwajib Lebanon begitu dia tiba di sana tahun lalu. Masa penahanannya diperkirakan akan berlangsung sampai Februari mendatang.
Dalam rekaman itu Mahmoud mengatakan, "Tolong, saya ingin mengirim 15kg (tambahan) dan kamu sendiri akan membawa 25kg karena Etihad memberi bagasi 40kg. Saya perlu mengirim banyak hadiah."
Di bagian lain, Mahmoud menyampaikan bahwa saudara-saudaranya tidak dapat membayarkan penerbangan Amer, namun akan mengiriminya uang begitu dia di Lebanon.
AFP mengungkapkan bahwa sebuah bom dikeluarkan dari koper Amer di bagian check-in bandara oleh saudara-saudaranya, karena koper itu terlalu berat.
Bom tersebut diduga disembunyikan di dalam alat penggiling daging dan mungkin juga di dalam boneka anak-anak.
Pengacara Amer, Joceline Adib Al-Rahi, mengatakan bukti rekaman tersebut membantu klaim kliennya. Menurut dia, memang tidak ada bukti keterlibatan kliennya ini dalam rencana terssebut.
Baca tanpa iklan