"Ada pepatah lama bahwa jika suatu kebohongan didistribusikan berulang kali, orang akan segera percaya bahwa itu adalah kebenaran."
"Ini sangat bahaya kalau orang-orang terus melihat kebohongan tetapi tidak ada yang mencoba untuk memeriksa fakta atau membantah kebohongan tersebut," katanya.
Tetapi seiring dengan semakin dekatnya hari pemilu, para pemberantas kabar bohong ini kesulitan mengikutinya.
Troll dunia maya - yang dikenal sebagai \'buzzers\' di Indonesia - dibayar untuk menyebarkan berita bohong, sering menggunakan puluhan atau bahkan ratusan akun palsu di Twitter dan Facebook.
"Di Asia Tenggara kami melihat banyak orang muda dipekerjakan karena keterampilan [digital] mereka."
"Mereka dibayar selama periode pemilihan umum untuk berusaha menghadirkan lebih banyak konten tentang kandidat politik tertentu di ruang publik digital," kata RossTapsell.
Seorang pria, yang memimpin tim buzzer semacam itu, mengklaim konten mereka mampu menjangkau setidaknya 1 juta orang per minggu.
"Medan pertempuran kami adalah media sosial," katanya kepada kantor berita Reuters.
Sebagian besar buzzer memilih anonim, karena pekerjaan mereka jatuh ke wilayah abu-abu dalam persepktif hukum dan tidak ada yang akan ada yang mengaku siapa yang membayar mereka.
Tetapi para buzzer ini percaya bahwa banyak politisi yang mengutuk berita palsu diam-diam menggunakan buzzer untuk mendiskreditkan lawan mereka secara online.
"Kami memang memiliki laporan bahwa kedua belah pihak dan kedua kandidat menggunakan layanan mereka," kata Sasmito.
Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.
Baca tanpa iklan