"Saat itu Radio Vietnam VOV ulang tahun ke 70 sedangkan Radio Taiwan ulang tahun ke 60. Saat berada di negara tersebut segala biaya akomodasi dan konsumsi ditanggung."
"Bahkan jalan-jalan ke berbagai destinasi wisata juga dibayari," ujar Rudy.
Dari pengalaman berkunjung ke luar negeri karena radio tersebut, Rudy Hartono mengatakan adalah ketika di Beijing, yang merupakan kunjungan pertamanya ke luar negeri, Rudy dan temannya tersesat di stasiun kereta bawah tanah.
"Saya dan teman tersesat di jalur padat kereta api bawah tanah Beijing. Karena kereta api Beijing memiliki dua lantai sehingga membingungkan."
"Kami awalnya mencoba tenang dan bertanya kepada polisi yang berjaga, namun mereka tidak bisa berbahasa Inggris."
"Namun ada saja bantuan datang dari pemuda setempat yang mengantarkan kami ke jalur keluar stasiun tersebut," tambahnya lagi.
Walau di rumah mendengar radio sendirian, namun Rudy Hartono kemudian juga menjalin persahabatan dengan para pendengar radio siaran luar negeri lainnya, sehingga kemudian terbentuk perkumpulan.
Perkumpulan tersebut kemudian bertemu secara teratur.
Rudy juga pernah mengunjungi Radio NHK Jepang, bersama beberapa pendengar radio lainya di tahun 2017, menggunakan biaya honor yang diterimanya dari radio Jepang tersebut selama 11 tahun terakhir.
Di Kalimantan, Rudy Hartono mendirikan perkumpulan yang disebut Borneo Listeners Club (BLC) yang didirikan di tahun 2010.
"Saya pertama kali menghadiri temu keluarga pendengar radio ke-2 di Solo tahun 2008. Di situ saya berkenalan dengan banyak peserta lain."
"Saya mendengar ketika itu dunia keradioan lesu, perkumpulan pendengar juga banyak yang vakum. Hingga munculnya satu ide untuk dirikan klub pendengar di Kalimantan Barat."
"Di tahun 2010, barulah klub pendengar itu berdiri dan kami beri nama Borneo Listeners Club (BLC)."
Salah satu program dari BLC menurut Rudy Hartono adalah apa yang mereka sebut DX Tour, dimana beberapa pendengar berkumpul untk mengunjungi stasiun radio di negara asalnya.
Baca tanpa iklan