Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Steven Greatness
TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK - Harga minyak bumi saat ini yang semakin labil bakal berpengaruh pada sektor lainnya. Harga saham pun diperkirakan bakal bergejolak karena pengaruh gejolak minyak dunia tersebut.
Branch Manager First Asia Capital Pontianak, Yangpi, mengatakan perdagangan saham kemarin gagal mempertahankan indeks komposit di atas level 4.000, meskipun diwarnai aksi beli selektif atas saham-saham lapis dua.
IHSG pada perdagangan kemarin bergerak dalam rentang konsolidasi, sempat turun 23 poin, namun akhirnya berhasil ditutup hanya turun 7,927 poin atau 0,2 persen di posisi 3.995,024.
Menurutnya, pelemahan indeks kemarin, disebabkan koreksi atas saham ASII dan beberapa saham sektor konsumsi, terutama dipicu kekhawatiran investor atas rencana pemerintah menaikkan harga BBM pada April mendatang.
"Kenaikan harga BBM berpotensi meningkatkan angka inflasi domestik dan memotong prospek pertumbuhan laba emiten akibat kenaikan biaya energi," ujarnya.
Oleh sebab itu, perdagangan hari ini pergerakan indeks diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi dan masih berpeluang menguat meskipun terbatas.
Penguatan di pasar saham global tadi malam sedikit tertahan akibat sejumlah data ekonomi yang keluar dari Uni Eropa dan China kurang menguntungkan. Pertumbuhan sektor jasa di Uni Eropa Januari lalu mengalami pelemahan.
Indeks manufaktur China Januari lalu yang dikeluarkan oleh HSBC juga menunjukkan terjadinya kontraksi yakni di angka 48,8. Sedangkan untuk Februari, indeks manufaktur China berada di 49,7 (angka sementara). Indeks di bawah 50 menunjukkan terjadinya kontraksi, paparnya.
Dengan perkembangan tersebut, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan akan mixed dengan naik turun di kisaran 20-30 poin.
Saham Pilihan :
ASII 71500-74000 Buy on Weakness
BBRI 6800-7050 Trading Buy
ITMG 42800-45000 Trading Buy
PGAS 3725-3900 Sell on Strength
ENRG 191-198 Buy on weakness
INTA 800-890 Trading Buy
DEWA 87-98 Trading Buy
BRAU 475-550 Maintain Buy
CTRA 640-700 Hold
BBTN 1190-1250 Maintain Buy
SUMBER : First Asia Research
DATA : Steven
Baca tanpa iklan