News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pengalaman PLTN Jepang

Masyarakat Jepang Tolak PLTN

Editor: Sugiyarto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BENAHI JARINGAN - Para pekerja, yang bertahan di PLTN Fukushima, Jepang yang rusak akibat gempa dan tsunami, menghubungkan jaringan transmisi untuk memulihkan pasokan listrik ke reaktor nuklir nomor 3 dan 4.

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Masyarakat umumnya marah dan menentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Tidak hanya terjadi di Indonesia, masyarakat Jepang juga melakukan penolakan. Bahkan saat ini masyarakat Jepang sudah mematok harga mati menolak kehadiran PLTN.

Menurut laporan koordinator Forum Ekonomi Jepang-Indonesia (JIEF) Richard Susilo dari Tokyo, Jepang, banyak bukti nyata dari masyarakat yang menentang keras kehadiran PLTN di negaranya.

Salah satunya adalah Jumat (20/07/2012) sekitar 200.000 pengunjuk rasa tumpah ruah di Tokyo. Protes keras juga terjadi, Minggu (15/07) lalu, masyarakat Sendai dan beberapa kota lain di Jepang, marah sekali saat Dengar Pendapat soal kebijaksanaan lingkungan dan masa depan energi Jepang.

Pemicunya adalah seorang dari PLTN Tohoku nyelonong bicara, yang membuat forum diskusi sangat panas. Untung ada Menteri Lingkungan Hidup Goshi Hosono yang langsung menenangkan masyarakat.

Upaya menentang keras pemerintah Jepang atas kebijakan PLTN sangat jelas terlihat dari unjuk rasa paling besar dalam sejarah Jepang ini sejak awal Juli lalu di Nagatacho dekat Gedung Parlemen Jepang dan Kantor PM Jepang. Unjuk rasa dilakukan setelah 6 Juli lalu PLTN Oi di Fukui perfektur dibangkitkan kembali. Pada sejak tahun lalu pembangkit itu sudah dimatikan.

Tak lepas dari artis, komposer dan musisi terkenal Jepang Ryuichi Sakamoto ikut pula unjuk rasa. Keterlibatan para publik figur ini semakin memicu masyarakat semakin keras menentang kebijakan PLTN di Jepang. "Diam saja setelah kejadian Fukushima adalah tindakan yang sangat tidak benar," tekan Ryuichi Sakamoto.

Sakamoto (60) mengakui selama ini dia berusaha sabar dan diam saja, "Tapi kini saya tak bisa diam lagi karena kejadian ini jelas tidak masuk akal lagi," ungkapnya mengacu kepada pengoperasian kembali PLTN Oi di Fukui Perfektur.

"Saat ini PM Jepang, Yasuhiko Noda, telah mengusik rasa geram saya yang berusaha diam selama ini. Upaya yang katanya untuk membela dan membantu 'kehidupan masyarakat' membuat saya bingung. Masyarakat yang mana yang dimaksud sih?" tanyanya. (*)

BACA JUGA:

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini